OpiniArtikel

Menghilangnya Kekuatan Relawan Pro Prabowo

21
×

Menghilangnya Kekuatan Relawan Pro Prabowo

Sebarkan artikel ini

Oleh: Soeryawan Masangang, SE., MM**

ARTIKEL – Disadari atau tidak, kemenangan Presiden Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden dua tahun lalu tidak lepas dari peran besar dan perjuangan panjang para relawan yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

Para pimpinan relawan nasional yang sejak awal membentuk jaringan perjuangan tidak hanya bekerja dengan tenaga dan pikiran, tetapi juga mengorbankan waktu, materi, bahkan menghadapi berbagai risiko demi satu tujuan: mengantarkan Prabowo Subianto menjadi Presiden Republik Indonesia ke-8.

Perjalanan politik Prabowo yang beberapa kali mengalami kekalahan dalam kontestasi pemilihan sebelumnya menjadi salah satu faktor yang membangkitkan simpati masyarakat. Banyak rakyat merasa perjuangan tersebut harus mendapat dukungan agar cita-cita politik itu dapat terwujud. Dari semangat itulah muncul berbagai gerakan masyarakat yang secara sukarela menghimpun kekuatan, termasuk dukungan dana dan jaringan hingga ke tingkat akar rumput.

Dalam catatan kami, terdapat sekitar 320 wadah relawan nasional yang bergerak dan kemudian terhimpun dalam perjuangan pemenangan Prabowo-Gibran. Mereka bekerja di lapangan, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta menjadi bagian penting dalam proses kemenangan tersebut.

Ketika kemenangan diumumkan, kegembiraan tidak hanya dirasakan oleh relawan, tetapi juga oleh berbagai kelompok masyarakat dan partai politik pendukung. Kemenangan tersebut menjadi momentum besar yang kemudian memasuki fase baru: pembentukan pemerintahan.

Namun, pada fase inilah dinamika politik mulai berubah.

Dalam tradisi politik, setelah kemenangan biasanya terjadi proses pembagian peran dan kekuasaan sebagai konsekuensi dari kerja politik yang telah dilakukan selama masa perjuangan. Di sinilah terjadi tarik-menarik kepentingan, lobi politik, serta kompetisi antar kelompok untuk mendapatkan posisi strategis.

Yang menarik untuk dicermati adalah, ke mana peran para relawan yang selama ini menjadi kekuatan utama di lapangan?

Relawan yang selama kampanye bergerak tanpa pamrih, mengandalkan loyalitas dan semangat perjuangan, seakan perlahan menghilang dari panggung utama. Padahal, mereka memiliki kontribusi nyata dalam membangun basis dukungan masyarakat.

Dalam dunia politik, memang berlaku hukum bahwa kelompok yang memiliki akses, jaringan, dan kekuatan sumber daya sering kali lebih mudah mendapatkan ruang. Sementara relawan yang bekerja dengan ketulusan dan militansi terkadang harus menerima kenyataan bahwa perjuangan mereka tidak selalu berbanding lurus dengan kesempatan untuk berperan dalam pemerintahan.

Jika kita melihat perjalanan pemerintahan sebelumnya, khususnya pada era Presiden Joko Widodo, peran relawan justru mendapat perhatian besar. Banyak tokoh relawan diberi ruang strategis di luar kabinet untuk membantu menjaga komunikasi politik, memperkuat dukungan publik, dan menjadi bagian dari ekosistem pemerintahan.

Hingga saat ini, berbagai kelompok relawan tersebut masih terlihat aktif menyuarakan dukungan dan membela mantan Presiden Joko Widodo dalam berbagai situasi.

Lalu bagaimana dengan relawan Pro Prabowo?

Pertanyaan itu muncul di tengah masyarakat dan para penggiat politik: mengapa kekuatan besar relawan yang dahulu begitu aktif kini seolah tidak terlihat?

Padahal Presiden Prabowo saat ini menghadapi berbagai sorotan publik dan tantangan komunikasi politik. Dalam kondisi seperti ini, keberadaan relawan yang memahami akar rumput seharusnya dapat menjadi kekuatan komunikasi dan jembatan antara pemerintah dengan masyarakat.

Sebagai pihak yang mengetahui langsung proses pembentukan relawan Pro Prabowo, kami melihat bahwa gerakan ini lahir secara mandiri dari berbagai daerah. Mereka membangun organisasi, bergerak, dan bekerja jauh sebelum struktur resmi pemenangan terbentuk.

Kemudian seluruh relawan tersebut dihimpun dalam koordinasi nasional melalui Tim Kampanye Nasional agar gerakan tidak berjalan sendiri-sendiri. Sebanyak 320 organisasi relawan menjadi bagian dari kekuatan besar yang diyakini ikut memberikan kontribusi terhadap kemenangan Prabowo-Gibran.

Namun setelah kemenangan diraih, muncul persoalan baru.

Pembentukan wadah baru seperti Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) yang dipimpin oleh Rosan Perkasa Roeslani tanpa melibatkan secara penuh struktur pimpinan dari 320 relawan nasional yang sebelumnya bekerja di lapangan, menjadi salah satu awal munculnya kekecewaan.

Para relawan merasa perjuangan panjang yang mereka lakukan belum mendapatkan ruang komunikasi dan peran yang semestinya. Mereka bukan meminta penghargaan berlebihan, tetapi berharap dapat diajak berdialog, dilibatkan, dan diberi kesempatan untuk ikut berkontribusi dalam menjaga serta mengawal pemerintahan.

Mereka berada dalam posisi yang sulit: diam dianggap tidak peduli, tetapi bersuara pun sering kali dianggap mengganggu.

Karena itu, sudah saatnya relawan Pro Prabowo kembali diberikan ruang yang tepat. Bukan semata untuk mendapatkan jabatan atau kekuasaan, tetapi sebagai kekuatan sosial-politik yang dapat membantu menyampaikan gagasan, memperkuat komunikasi pemerintah, dan menjadi penghubung antara Presiden dengan masyarakat.

Momentum ini belum terlambat. Relawan masih memiliki energi, jaringan, dan semangat perjuangan yang besar.

Yang dibutuhkan adalah komunikasi, penghargaan terhadap sejarah perjuangan, serta penempatan peran relawan secara proporsional.

Sebab sebuah kemenangan besar tidak hanya lahir dari para pemain di panggung utama, tetapi juga dari mereka yang bekerja dalam senyap di balik layar.

**Sekjen Gerakan Nasional Masyarakat Pro Prabowo (GASPRO)

Tinggalkan Balasan