JAWA TIMURSumenep

Viral Jalan Rusak dan Valen DA7 di Desa Gadding, kec.manding

309
×

Viral Jalan Rusak dan Valen DA7 di Desa Gadding, kec.manding

Sebarkan artikel ini

Sumenep,Globalindo.net – Kehadiran artis Dangdut Academy 7 (DA7), Valen, yang dijadwalkan tampil dalam sebuah festival rakyat di Desa Gadding, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, memicu euforia besar di tengah masyarakat. Namun di balik gegap gempita itu, terselip sebuah ironi sosial yang tak bisa diabaikan: lokasi acara berada di kawasan dengan kondisi jalan yang rusak parah.

Fenomena ini bukan sekadar peristiwa hiburan. Ia adalah potret kontras antara semangat budaya populer dan realitas pembangunan yang belum merata bahkan tidak pernah di sentuh sama sekali oleh pemerintah kabupaten Sumenep, Masyarakat menyambut Valen sebagai simbol harapan, kegembiraan, dan pelepas lelah dari rutinitas keras. Namun, jalan rusak yang menjadi akses utama menuju lokasi festival justru menyuarakan pesan lain—tentang keterbatasan infrastruktur, ketimpangan perhatian, dan panjangnya daftar kebutuhan dasar yang belum terpenuhi.

Dalam perspektif akademis, peristiwa ini dapat dibaca sebagai “paradoks pembangunan lokal”: ketika ruang publik dipenuhi gemerlap acara, tetapi fondasi fisiknya yakni infrastruktur masih rapuh. Jalan, sebagai sarana mobilitas dan denyut ekonomi, seharusnya menjadi prioritas utama dalam pembangunan desa. Ketika ia rusak, maka yang terhambat bukan hanya kendaraan, tetapi juga akses pendidikan, layanan kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi warga.

Secara sosiologis, antusiasme warga menunjukkan bahwa hiburan memiliki fungsi penting sebagai katup emosi kolektif. Dalam kondisi sosial yang penuh tekanan, masyarakat memerlukan ruang untuk tertawa, bernyanyi, dan merasa “dilihat”. Namun, idealisme menuntut agar kegembiraan tidak berdiri sendiri tanpa diiringi komitmen nyata terhadap perbaikan kualitas hidup.

Kehadiran Valen DA7 sejatinya dapat menjadi momentum refleksi bagi seluruh pemangku kebijakan: bahwa desa bukan hanya panggung acara, tetapi juga ruang hidup yang harus dijaga martabatnya. Festival semestinya menjadi jembatan antara aspirasi budaya dan keadilan pembangunan, bukan sekadar panggung sementara yang berdiri di atas luka lama.
Di sinilah suara rakyat menemukan nadanya:

Kami bersyukur atas hiburan, tetapi kami juga berhak atas jalan yang layak.
Sebab kemajuan tidak diukur dari sorak penonton, melainkan dari seberapa mulus langkah masa depan warganya,”

Pewarta:HR