Beranda

Pulanglah Kelak Membawa Cahaya

208
×

Pulanglah Kelak Membawa Cahaya

Sebarkan artikel ini

Goresan Pena untuk Anak-Anak Santri Kangean

Di ujung timur Madura, di tengah lautan yang kadang tenang, kadang berombak,
Ada tanah yang diberkahi: Kangean — pulau kecil, tapi penuh dengan jiwa-jiwa besar.
Dan dari tanah sederhana ini, setiap tahun lahir para pejuang ilmu,
anak-anak yang berangkat di usia sangat muda,
menggenggam tas kecil, sarung, dan Al-Qur’an di dada,
meninggalkan rumah, keluarga, dan kampung halaman
demi satu tujuan: *menuntut ilmu dan mengangkat derajat agama.*

Kalian pergi…
Bahkan belum sempat tumbuh tinggi,
belum sepenuhnya paham arti rindu,
namun sudah mengerti apa itu pengorbanan.

Berangkat dari pelabuhan sederhana,
menginjak bumi baru di tanah Jawa,
menyusuri lorong-lorong pesantren tua —
Sukorejo, Lirboyo, Jombang, Wali Songo, Paiton…
nama-nama besar itu kini menjadi tempat kalian menumbuhkan mimpi,
di bawah asuhan para alim dan kiai yang tak kenal lelah membimbing jiwa.

Kalian adalah cahaya yang dikirim dari pulau ini,
Kecil mungkin, redup mungkin,
tapi kelak nyalanya akan terang,
dan sinarnya akan kembali menyinari kampung ini —
yang tak pernah berhenti menantimu pulang,
dengan ilmu di tangan, dan akhlak di hati.

Wahai anak-anak santri,
Ketahuilah…
Setiap malam ada seorang ibu yang tak henti berdoa dalam sujudnya.
Ada seorang ayah yang pura-pura kuat saat melepasmu di pelabuhan,
padahal dadanya sesak,
matanya sembab menahan tangis,
karena tahu anak yang biasanya dipeluk setiap malam,
kini akan jauh entah berapa tahun.

Kalian berangkat dengan restu yang dibungkus doa,
dan cinta yang disisipkan dalam bekal sederhana.
Satu potong kain sarung,
satu kitab kecil,
dan satu pesan yang tak pernah usang:
“Jaga salatmu, hormati gurumu, jangan lupa asalmu.”

Masyarakat Kangean menatap kalian dengan mata berbinar,
karena kalian bukan hanya anak-anak kami,
kalian adalah titipan masa depan.

Kelak, saat kami tua dan tak mampu lagi berdiri,
kalianlah yang kami harapkan jadi pemimpin,
bukan hanya di mimbar masjid, tapi juga di ruang-ruang kebijakan,
membawa nilai-nilai pesantren ke tengah masyarakat.

Bukan harta yang kami tunggu dari kalian,
tapi nasihat-nasihat lembut,
akhlak yang menyejukkan,
dan ilmu yang kalian amalkan dengan ikhlas.

Wahai anak-anak Santi Kangean,
Jika suatu malam kalian duduk di beranda pesantren,
dan rasa rindu itu datang begitu kuat,
ingatlah…
ada laut yang selalu mendoakanmu,
ada angin pulau yang ingin memelukmu,
dan ada rumah kecil di Kangean
yang lampunya tak pernah padam menantimu pulang.

Dan untuk para orang tua yang melepas anaknya ke pondok,
ketahuilah…
tangismu saat berpisah adalah bagian dari perjuangan.
Air matamu adalah saksi bahwa cinta sejati itu bukan tentang memiliki,
tetapi tentang *melepas demi kebaikan yang lebih besar* .

Kalian bukan orang tua biasa.
Kalian adalah orang tua dari para pejuang ilmu .
Dan kelak, namamu akan disebut dalam setiap doa santrimu,
sebagaimana nama para ulama yang tak pernah dilupakan.

Maka, kepada seluruh masyarakat Kangean:
Mari kita jaga anak-anak ini,
dengan doa, dengan semangat,
dengan kepercayaan penuh bahwa mereka sedang menjemput takdir terbaik.

Karena kelak, dari lorong-lorong pesantren itu,
akan pulang anak-anak kita—
bukan hanya sebagai santri,
tapi sebagai pelita,
penerang jalan,
dan harapan bagi generasi Kangean yang akan datang.

Pulanglah kelak membawa cahaya , Nak.
Kami menantimu —
dengan hati yang selalu merindukan,
dan doa yang tak pernah henti mengiringi.

Oleh : Hariyanto
Pemerhati kepulauan