Beranda

Agustus Masih Sepi Warna: Di Mana Umbul-Umbulmu, Arjasa

159
×

Agustus Masih Sepi Warna: Di Mana Umbul-Umbulmu, Arjasa

Sebarkan artikel ini

Arjasa, Kangean – Bulan Agustus telah tiba. Bulan yang selalu dirindukan rakyat Indonesia karena di sinilah jiwa nasionalisme seharusnya membara, meletup dalam bentuk semangat dan simbol-simbol kebangsaan. Namun sayang seribu sayang, semangat itu belum tampak nyata di sepanjang jalan Kecamatan Arjasa. Umbul-umbul yang seharusnya menghiasi setiap sudut desa, kantor, hingga gang kecil, masih terlihat sepi. Jalanan yang biasanya meriah oleh warna merah putih kini hanya ditemani angin dan debu.

Padahal, Agustus bukan sekadar angka dalam kalender. Ia adalah momentum. Ia adalah kenangan kolektif tentang perjuangan. Ia adalah panggilan untuk bangkit, untuk menghargai para pahlawan yang rela mati demi tanah ini. Di mana semangat itu sekarang?

Terlihat hanya beberapa instansi yang sadar akan makna simbolis ini. Beberapa kantor mulai memasang umbul-umbul, tetapi jumlahnya masih sangat terbatas, tidak sebanding dengan harapan masyarakat yang mendambakan kemeriahan khas bulan kemerdekaan. Masyarakat pun mulai bertanya-tanya, “Apakah pemerintah kecamatan sudah menginstruksikan pemasangan umbul-umbul dan bendera kepada seluruh kepala desa dan instansi?” Sebab, jika benar ada surat edaran dari Camat, mereka yakin suasana Agustus akan hidup kembali.

Inilah pentingnya komunikasi dan kepemimpinan. Sudah saatnya Camat Arjasa bersama Forkopimka bergerak cepat. Sebuah surat edaran yang tegas, yang disampaikan langsung kepada semua kepala desa, kepala sekolah, dan pimpinan instansi, akan menjadi cambuk bagi kita semua untuk kembali sadar bahwa kemerdekaan tidak datang dengan cuma-cuma.

Merah putih tak hanya lambang, tapi nyawa bangsa. Jangan biarkan Arjasa kehilangan warnanya di bulan kemerdekaan.

Jangan biarkan Agustus berlalu tanpa makna. Jangan sampai masyarakat berpikir seolah-olah tidak ada pemerintahan yang hadir memberi warna di tengah mereka. Padahal, masyarakat Arjasa menanti, berharap ada kegiatan, lomba, dan simbol-simbol peringatan yang menghidupkan kembali semangat kebangsaan mereka.

Hargai cucuran darah, air mata, dan nyawa yang telah ditaruhkan oleh para pejuang kita. Apakah kita yang hanya tinggal mengibarkan bendera dan memasang umbul-umbul masih merasa berat dan enggan?

Mari kita isi kemerdekaan ini, bukan hanya dengan seremoni, tapi juga dengan rasa. Rasa hormat, rasa syukur, dan rasa cinta pada negeri. Dan semuanya bisa dimulai dari hal kecil: memasang umbul-umbul di depan rumah, kantor, dan di sepanjang jalan Arjasa. Sederhana, tapi penuh makna.

Merah putih tak hanya lambang, tapi nyawa bangsa. Jangan biarkan Arjasa kehilangan warnanya di bulan kemerdekaan.

Oleh : Hariyanto,
Pemerhati kepulauan Kangean