JAWA TIMURSumenep

Dari Tukang Cuci Mobil Hingga Pegang Anggaran Negara, Kisah Inspiratif Said Abdullah Putra Sumenep

35
×

Dari Tukang Cuci Mobil Hingga Pegang Anggaran Negara, Kisah Inspiratif Said Abdullah Putra Sumenep

Sebarkan artikel ini

SUMENEP,Globalindo.net – Siapa sangka, sosok yang kini memegang kendali atas alokasi anggaran negara terbesar dalam sejarah Indonesia ternyata adalah putra asli tanah Madura. Dia adalah Said Abdullah, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI yang memiliki perjalanan hidup luar biasa, dari bawah hingga kini berada di puncak karier.

Kisahnya menjadi bukti nyata bahwa latar belakang ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan dan mengabdikan diri bagi bangsa.

Said Abdullah bukanlah orang yang lahir dari keluarga bergelimang harta atau memiliki privilege khusus. Sebelum namanya melambung di dunia politik, ia pernah merasakan kerasnya kehidupan.

Dulu, Said pernah bekerja sebagai tukang cuci mobil dan berkeliling menjual keripik tempe. Namun, tekad dan semangatnya tak pernah padam. Sejak kelas 3 SMA, ia sudah mulai menekuni dunia organisasi politik, yang menjadi batu loncatan perjalanan panjangnya di kancah perpolitikan nasional.

Sebelum terjun penuh ke dunia politik, Said sempat berkecimpung di bisnis batubara dengan penghasilan yang jauh di atas rata-rata. Bahkan, saat gaji anggota DPR saat itu hanya sekitar Rp 4,2 juta, ia sempat menolak untuk maju sebagai calon legislatif. Namun, rasa pengabdian yang besar akhirnya membuatnya memilih jalan untuk melayani rakyat.

Pilihan itu ternyata tepat. Pada Pemilu 2024, Said Abdullah mencetak sejarah sebagai Caleg DPR RI dengan perolehan suara terbanyak se-Indonesia untuk Dapil Jawa Timur XI (Madura), yakni mengumpulkan total 529.792 suara.

Kini, setelah 20 tahun mengabdi di parlemen, ia kembali dipercaya memimpin Banggar DPR RI untuk periode kedua kalinya secara berturut-turut (2019-2024 dan 2024-2029). Posisi strategis ini membuatnya menjadi orang yang menentukan kemana uang rakyat akan dialirkan.

Di tangan Said, anggaran negara diperjuangkan agar benar-benar menjadi milik rakyat. Momen paling berat yang ia lalui adalah saat pandemi COVID-19 melanda. Bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani, Said menggawangi APBN agar menjadi tumpuan harapan di tengah krisis.

Badan Anggaran menyetujui program Pemulihan Ekonomi Nasional yang mencakup layanan pengobatan dan vaksinasi ratusan juta penduduk, subsidi UMKM dan desa, hingga insentif pajak agar roda ekonomi tetap berputar.

“Saat itu di masa paling gelap, APBN hadir sebagai perisai,” ungkapnya.

Said juga dikenal berani bersikap tegas, bahkan kepada lembaganya sendiri. Ia pernah mengkritik gaya kerja yang tidak efisien.

“Kalau minta pemerintah lakukan efisiensi, maka yang harus dilakukan DPR-nya duluan,” tegasnya.

Baginya, setiap angka di atas kertas anggaran memiliki dampak nyata bagi jutaan orang, sehingga harus direncanakan dan diawasi dengan sangat hati-hati.

Peduli Sesama, Bukti Nyata di Tanah Madura ,Kesuksesannya tidak membuat Said Abdullah melupakan akar dan kampung halamannya di Sumenep. Ia membuktikan bahwa wakil rakyat bukan hanya soal pidato di ruang sidang, tapi hadir dan merasakan apa yang dirasakan warga.

Di tengah keterbatasan akses di Madura, ia mendirikan Fatima International Elementary School sebagai wujud kepedulian terhadap dunia pendidikan, di mana anak-anak bisa bersekolah gratis. Ia juga membangun BHC Hospital untuk menutup kesenjangan layanan kesehatan yang selama ini dirasakan masyarakat.

Kepeduliannya juga terlihat jelas dalam tradisi kemanusiaan yang ia jalani belasan tahun. Sejak 2006, setiap bulan Ramadan ia rutin membagikan ribuan paket sembako. Tahun lalu saja, ia menyalurkan sekitar 150 ribu paket mulai dari Sumenep hingga Bangkalan, yang sasaran utamanya adalah tukang becak, ojol, pedagang kaki lima, dan warga kurang mampu.

Tak hanya itu, saat Idul Adha, ratusan sapi kurban disalurkan hingga ke pelosok desa. Bahkan saat reses, ia tak segan turun tangan menyelesaikan masalah dasar warga, seperti bantuan air bersih bagi warga Giring Manding yang kesulitan air saat kemarau, hingga air pun mengalir lancar ke rumah-rumah warga.

“Bukan dari Buku, tapi Pengalaman Sendiri”

Said Abdullah dikenal sebagai sosok yang berpihak pada “Wong Cilik”. Baginya, kemanusiaan adalah hal utama tanpa memandang golongan, ras, maupun agama.

Ia paham betul susahnya rakyat, bukan hanya dari membaca buku laporan, tapi karena ia pernah merasakannya sendiri—pernah menjadi tukang cuci, pernah berjualan keliling, dan tahu betul apa arti berjuang.

Kisah Said Abdullah menjadi inspirasi bahwa kesuksesan diraih dari kerja keras, dan jabatan tertinggi pun tak akan membuat seseorang sombong jika hatinya tetap tertanam di tanah kelahiran.”

Pewarta:HR-Eka

Tinggalkan Balasan