Kangean – Ratusan hektar sawah di Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, saat ini tidak digarap oleh masyarakat. Padahal, lahan tersebut rata-rata cocok untuk tanaman padi. Namun, keterbatasan sumber air dan belum optimalnya sistem irigasi membuat lahan persawahan menjadi tidak produktif.
Menurut keterangan sejumlah petani, persoalan utama yang dihadapi adalah sulitnya memperoleh air, terutama di musim kemarau. Tanpa pasokan air yang memadai, biaya produksi tidak sebanding dengan hasil panen. Akibatnya, banyak petani memilih membiarkan sawahnya kosong daripada mengalami kerugian.
“Kalau irigasi lancar, tanah di sini sebenarnya sangat bagus untuk padi. Tapi karena air tidak cukup, akhirnya banyak sawah tidak diolah. Jumlahnya bukan sedikit, sudah ratusan hektar,” ungkap seorang petani setempat, Minggu (31/8/2025).
Masyarakat Kangean menilai kondisi ini sebagai kerugian besar, karena sawah yang seharusnya mendukung ketahanan pangan justru terbengkalai. Mereka berharap pemerintah daerah memberi perhatian khusus, terutama dengan membangun embung, memperbaiki saluran irigasi, atau menyediakan pompa air untuk pertanian.
Selain pembangunan sarana irigasi, pola tanam juga dianggap perlu diatur. Pada musim hujan sawah bisa difungsikan untuk padi, sementara di musim kemarau sebagian lahan dialihkan ke palawija yang lebih sedikit membutuhkan air.
“Pemerintah harus hadir memberi solusi. Kalau tidak, sawah di Kangean akan semakin banyak yang tidak terurus, dan tentu saja merugikan petani maupun masyarakat luas,” tegas seorang tokoh masyarakat.
Dengan kondisi saat ini, masyarakat menekankan pentingnya langkah cepat pemerintah agar lahan pertanian di Kangean kembali produktif dan dapat berkontribusi bagi ketahanan pangan daerah.
Pewarta: Hariyanto












