JAWA TIMURSumenep

Inflasi Sumenep April 2026 Tembus 4,13 Persen, Harga Emas dan Pangan Jadi Pemicu Utama

33
×

Inflasi Sumenep April 2026 Tembus 4,13 Persen, Harga Emas dan Pangan Jadi Pemicu Utama

Sebarkan artikel ini

SUMENEP, Globalindo.net — Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep mencatat laju inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) pada April 2026 mencapai angka 4,13 persen. Angka ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang bergerak dari 111,40 pada April 2025 menjadi 116,00 pada bulan yang sama di tahun 2026. Kenaikan harga yang terjadi di hampir seluruh kelompok kebutuhan masyarakat menjadi pendorong utama terjadinya inflasi di wilayah yang dijuluki Kota Keris ini.

Kepala BPS Sumenep, Handoyo Wijoyo, SST, menjelaskan bahwa tekanan kenaikan harga masih terasa pada sebagian besar kelompok pengeluaran rumah tangga. Kondisi inilah yang kemudian memicu tingginya angka inflasi yang tercatat pada periode tersebut.

“Inflasi terjadi karena sebagian besar kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks harga,” tegas Handoyo dalam keterangan rilis resminya.

Berdasarkan rincian data yang dirilis, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan lonjakan harga mencapai 17,38 persen. Posisi kedua disusul oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik sebesar 4,81 persen.

Kenaikan harga juga merambat ke sektor lain, antara lain kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 3 persen, pendidikan 2,45 persen, rekreasi dan budaya 2,24 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang naik sebesar 1,97 persen. Di tengah gelombang kenaikan harga tersebut, kelompok transportasi justru menjadi satu-satunya sektor yang mencatat penurunan atau deflasi tahunan sebesar 0,16 persen.

Dari sisi komoditas, sejumlah barang kebutuhan pokok dan barang dagangan utama menjadi pemicu terbesar kenaikan harga. Komoditas yang memberikan andil inflasi signifikan antara lain emas perhiasan, rokok kretek mesin, beras, ikan tongkol, nasi dengan lauk, daging ayam ras, minyak goreng, daging sapi, telur ayam ras, hingga tarif air minum.

Menariknya, emas perhiasan menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar di antara semua sektor. Barang ini memberikan andil inflasi sebesar 1,64 persen atau hampir setengah dari total angka inflasi tahunan yang terjadi di Sumenep pada April 2026.

Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat pergerakan harga dalam skala bulanan. Pada periode month to month (m-to-m), terjadi deflasi atau penurunan harga sebesar 0,40 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d) tercatat sebesar 1,92 persen.

Deflasi bulanan tersebut dipengaruhi oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai rawit, daging ayam ras, cumi-cumi, telur ayam ras, beras, dan kelapa. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua memberikan andil sebesar 1,68 persen, yang utamanya dipicu kenaikan harga beras, ikan tongkol, daging ayam ras, minyak goreng, dan produk tembakau.

Meski tekanan harga masih tinggi, terdapat sejumlah komoditas yang justru mengalami penurunan harga dan turut membantu menahan laju inflasi agar tidak melonjak lebih tinggi lagi. Komoditas tersebut meliputi bawang putih, bawang merah, kelapa, cumi-cumi, wortel, serta jasa angkutan antarkota.

Secara umum, kondisi harga di Kabupaten Sumenep sepanjang April 2026 masih menunjukkan tren kenaikan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Namun, turunnya harga sejumlah bahan pangan strategis menjadi penyeimbang, sehingga tekanan inflasi pada bulan tersebut dapat dikendalikan dan tidak meluas ke angka yang lebih tinggi.

Pewarta: HR

Tinggalkan Balasan