Beranda

Batuguluk Macet, Kangean Butuh Terminal: Sampai Kapan Kita Hanya Menonton?

255
×

Batuguluk Macet, Kangean Butuh Terminal: Sampai Kapan Kita Hanya Menonton?

Sebarkan artikel ini

Sumenep,Setiap musim libur, setiap kali kapal sandar, dan setiap kali para perantau pulang — satu pemandangan yang nyaris selalu hadir di Pelabuhan Batuguluk, Kecamatan Arjasa, Kangean: kemacetan.

Ratusan sepeda motor dan mobil tumpah ruah, bercampur dengan pejalan kaki, barang bawaan, penumpang lanjut usia, anak-anak pesantren, hingga jamaah umrah dan haji. Mereka semua mencari celah, berdesakan, berharap dapat keluar dari pelabuhan dengan selamat, cepat, dan nyaman. Namun, apa yang mereka dapati? Kekacauan yang berulang dan seolah dibiarkan.

Haruskah situasi ini terus dianggap sebagai hal biasa?
Apakah kemacetan ini hanya akan terus dijadikan tontonan rutin para pemangku kebijakan?
Di manakah peran negara, saat rakyatnya bahkan harus berebut jalan di negerinya sendiri?

Sudah saatnya Pulau Kangean memiliki terminal representatif. Bukan hanya sebagai simbol pembangunan, tetapi sebagai kebutuhan mendesak. Volume kendaraan terus meningkat, baik roda dua maupun roda empat. Lalu lintas orang semakin padat — terutama di musim haji, libur kuliah, dan hari besar keagamaan. Situasi ini tak bisa lagi dibiarkan mengalir tanpa sistem.

Masyarakat Kangean hanya jadi penonton atas kemacetan

Terminal bukan sekadar bangunan. Ia adalah pusat pengaturan, pengendalian, dan pelayanan. Ia adalah jawaban dari panggilan tanggung jawab. Tanpa terminal, maka keruwetan akan terus terjadi, risiko kecelakaan meningkat, dan kenyamanan masyarakat terabaikan.

Pemerintah, dalam hal ini, tak bisa hanya menjadi pengamat. Kewenangan yang melekat pada jabatan adalah amanah, bukan hanya kehormatan. Dan amanah itu menuntut keberanian untuk bertindak, bukan hanya duduk diam.

Kangean bukan lagi pulau yang terpencil. Ia adalah rumah besar bagi ribuan jiwa yang layak mendapat pelayanan yang layak pula. Maka, mari kita tanyakan bersama:

Sampai kapan masyarakat Kangean hanya jadi penonton atas kemacetan yang tak pernah terselesaikan?
Sampai kapan pemerintah hanya sekadar hadir tanpa menyelesaikan?

Pembangunan terminal di Batuguluk bukan sekadar harapan. Ia adalah panggilan nurani . Dan semoga, nurani itu masih hidup dalam benak mereka yang diberi kuasa.

Oleh: Hariyanto