SUMENEP, Globalindo.net — Proyek pengaspalan jalan di Desa Sergeng, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Jawa timur kini menjadi sorotan tajam setelah tim Media menemukan kondisi permukaan jalan yang mulai terkelupas, padahal pekerjaan tersebut masih tergolong baru.
Temuan ini memunculkan pertanyaan serius mengenai kualitas pelaksanaan proyek dan pengawasan pekerjaan. Infrastruktur yang seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang justru terlihat mulai mengalami kerusakan dalam waktu relatif singkat.
Saat melakukan investigasi di lokasi, tim Media juga tidak menemukan prasasti atau papan informasi proyek. Kondisi tersebut semakin menimbulkan tanda tanya karena masyarakat tidak dapat dengan mudah mengetahui informasi dasar mengenai pekerjaan tersebut, mulai dari sumber anggaran, nilai pekerjaan, volume, pelaksana hingga waktu pelaksanaan.
Aspal baru sudah terkelupas, sementara informasi mengenai proyek justru tidak terlihat di lokasi.
Team Media kemudian berupaya meminta klarifikasi kepada Kepala Desa Sergeng melalui pesan WhatsApp. Namun hingga berita ini diterbitkan, tidak ada respons dari kepala desa terkait temuan tersebut.
Salah seorang aktivis yang menyoroti persoalan itu menduga kerusakan dini tersebut tidak terlepas dari kualitas pengerjaan yang perlu diperiksa secara serius. Ia mengingatkan agar pembangunan yang bersumber dari anggaran publik tidak dikerjakan sekadar untuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi harus mengutamakan mutu dan ketahanan hasil pembangunan.
“Kalau baru dikerjakan sudah terkelupas, tentu patut dipertanyakan kualitas pekerjaannya. Jangan sampai mengejar keuntungan justru membuat pekerjaan dilakukan asal jadi,” ungkapnya.
Namun dugaan tersebut tentunya harus dibuktikan melalui pemeriksaan teknis. Terkelupasnya aspal dapat berkaitan dengan berbagai faktor, seperti kualitas material, ketebalan lapisan, proses pemadatan, kondisi lapisan dasar maupun faktor teknis lainnya.
Karena itu, pertanyaan yang kini layak diajukan kepada pihak terkait bukan hanya mengapa aspal cepat rusak, tetapi juga berapa anggaran proyek tersebut, siapa pelaksananya, bagaimana spesifikasinya, serta apakah pelaksanaan di lapangan telah sesuai dengan perencanaan dan standar teknis yang ditetapkan.
Ketiadaan prasasti di lokasi juga perlu mendapatkan penjelasan. Jika memang prasasti belum dipasang, pemerintah desa semestinya memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat agar tidak menimbulkan dugaan dan spekulasi.
Team Media menyatakan tidak akan berhenti pada temuan visual di lapangan. Tim berencana menindaklanjuti persoalan tersebut kepada Inspektorat dan instansi teknis terkait untuk meminta pemeriksaan terhadap kualitas pekerjaan sekaligus transparansi anggarannya.
Jika pemeriksaan resmi nantinya menemukan adanya ketidaksesuaian antara pekerjaan di lapangan dengan spesifikasi maupun ketentuan yang berlaku, pihak yang bertanggung jawab harus dimintai penjelasan dan melakukan langkah perbaikan sesuai aturan.
Sebaliknya, apabila pekerjaan tersebut dinyatakan telah sesuai spesifikasi dan terdapat faktor lain yang menyebabkan kerusakan, penjelasan resmi dari pihak terkait tentu menjadi penting agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh.
Sampai berita ini ditayangkan, Kepala Desa Sergeng belum memberikan tanggapan. Team Media tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Pemerintah Desa Sergeng, pelaksana pekerjaan, maupun pihak lain yang berkaitan dengan proyek tersebut.”
Pewarta: HR












