OpiniBAndung Barat

Hibah Jumbo, Transparansi Nol: Siapa Sebenarnya Juara di KONI KBB?

58
×

Hibah Jumbo, Transparansi Nol: Siapa Sebenarnya Juara di KONI KBB?

Sebarkan artikel ini

Sorotan Redaksi

KBB, Globalindo.Net – Di negeri yang gemar menggaungkan prestasi, ada satu cerita klasik yang terus berulang: anggaran membumbung tinggi, tapi hasilnya seperti bayangan, ada tercatat, tapi tak pernah benar-benar bisa disentuh.

Kali ini panggungnya berada di Komite Olahraga Nasional Indonesia Kabupaten Bandung Barat (KBB). Dengan dana hibah yang konon mencapai angka fantastis sekitar Rp11 miliar untuk Tahun Anggaran 2025, publik tentu berharap lahirnya atlet tangguh, pembinaan serius, dan sistem olahraga yang membanggakan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, yang mengalir deras tampaknya bukan prestasi, melainkan tanda tanya.

Mari kita mulai dari logika hal paling sederhana.

Jika 65 cabang olahraga masing-masing hanya menerima Rp10 juta hingga Rp50 juta, maka dengan hitungan kasar, totalnya hanya berkisar Rp3,25 miliar. Sisanya? Menguap seperti embun pagi, terlihat sebentar, lalu lenyap tanpa jejak.

Lebih ironis lagi, para atlet yang seharusnya menjadi ujung tombak prestasi justru seperti figuran dalam skenario besar ini. Dengan asumsi 500 atlet menerima Rp1,5 juta, kebutuhan hanya sekitar Rp750 juta. Tapi kenyataannya, data penerima tidak jelas, daftar tidak tersedia, dan mekanisme penyaluran seolah menjadi rahasia negara.

Jika atlet tidak tahu mereka menerima apa, dan publik tidak tahu siapa menerima berapa, maka satu pertanyaan sederhana muncul, siapa sebenarnya yang sedang “bermain” dengan dana ini?

Mungkin jawabannya ada di balik kata sakti: operasional.

Ya, operasional. Sebuah istilah yang lentur seperti karet, bisa ditarik ke mana saja sesuai kebutuhan. Tanpa rincian yang dipublikasikan, tanpa transparansi yang layak, pos ini menjelma menjadi tempat gelap, public nyaris tidak bisa melihat.

Sementara itu, di sisi lain, cabang olahraga justru dipaksa memainkan peran sebagai birokrat dadakan. Bantuan kecil, tapi laporan pertanggungjawaban (LPJ) dibuat seolah mereka mengelola proyek nasional. Administrasi berlapis, syarat berbelit, dan beban yang lebih berat dari anggaran itu sendiri.

Ini bukan pembinaan olahraga. Ini pelatihan kesabaran tingkat dewa.

Dan publik? Diposisikan sebagai penonton setia yang diminta percaya bahwa semua berjalan baik-baik saja tanpa data, tanpa bukti, tanpa transparansi.

Padahal, dana hibah ini bukan uang jatuh dari langit. Ini uang rakyat. Uang yang seharusnya kembali ke rakyat dalam bentuk prestasi, pembinaan, dan kebanggaan bersama. Bukan sekadar angka dalam laporan yang tak pernah benar-benar dibuka.

Jika benar terdapat ketidaksesuaian, penggunaan yang tidak tepat sasaran, atau bahkan manipulasi, maka persoalan ini bukan lagi sekadar soal etika. Ini soal hukum. Dan hukum, seperti olahraga, seharusnya menjunjung tinggi keadilan.

Desakan audit investigatif kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Transparansi bukan sekadar jargon, melainkan kewajiban. Dan klarifikasi bukan sesuatu yang bisa ditunda tanpa batas waktu.

Namun hingga saat ini, KONI KBB memilih diam. Mungkin sedang menyusun jawaban. Atau mungkin sedang berharap badai ini berlalu dengan sendirinya.

Sayangnya, publik hari ini tidak lagi mudah lupa. Karena dalam dunia olahraga, satu hal yang pasti: skor akhir selalu terlihat.

Dan saat peluit panjang ditiup nanti, kita semua akan tahu, siapa yang benar-benar bermain, dan siapa yang hanya berpura-pura berkeringat.

Red

Tinggalkan Balasan