ArtikelOpini

Bukan Perjalanan, Ini Gugatan, 14 Hari Saeful Melawan Ketidakpedulian

143
×

Bukan Perjalanan, Ini Gugatan, 14 Hari Saeful Melawan Ketidakpedulian

Sebarkan artikel ini
Saeful Toni, pemudik asal Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, saat dibantu kepulangannya oleh Anggota Polres Ciamis Aipda Agus Narto di Terminal Kota Banjar. Foto: Muhlisin/HR

BEKASI, Globalindo.Net – Saeful Tony (63) tidak sedang menaklukkan jarak. Ia sedang menanggung akibat dari sebuah sistem yang terlalu sering gagal hadir di momen paling genting. Dari Cikarang menuju Karanganyar, Kebumen, ia berjalan bukan karena pilihan, melainkan karena negara dengan segala perangkatnya tidak cukup sigap melindungi hal paling dasar: rasa aman.

Di sekitar Pasar Cikarang, dekat terminal, ruang publik yang mestinya dijaga, dompetnya raib. Uang ongkos, telepon genggam, lenyap dalam hitungan detik. Yang tersisa hanya tubuh renta dan niat pulang. Di titik itu, semua konsep modern tentang “mobilitas”, “konektivitas”, dan “kemudahan akses” runtuh begitu saja, dikalahkan oleh tangan cekatan seorang pencopet.

“Hasil kerja sudah saya transfer. Saya bawa secukupnya untuk ongkos saja, tapi tetap kecopetan.”, Ujarnya lirih.

Kalimat itu seperti tamparan. Ia sudah bekerja. Sudah patuh pada logika ekonomi. Sudah merencanakan kepulangannya dengan sederhana. Tapi satu celah kecil dalam sistem keamanan publik cukup untuk menghapus semuanya.

Lalu apa yang tersisa bagi seorang warga ketika sistem gagal melindunginya? Jawabannya: jalan kaki.

Empat belas hari. Dua pekan. Dari pagi hingga sore, Saeful melangkah menyusuri jalur pantura hingga selatan. Bukan perjalanan yang romantis, bukan pula kisah kepahlawanan yang layak dirayakan. Ini adalah potret telanjang tentang bagaimana seseorang dipaksa bertahan hidup tanpa jaring pengaman.

Ia tidur di masjid, tempat yang secara diam-diam mengambil alih fungsi negara: memberi perlindungan, memberi makan, memberi ruang untuk bertahan. Di sana, ia menemukan sesuatu yang sering hilang dalam birokrasi: empati.

“Alhamdulillah, selalu ada saja yang memberi makan.”

Ironinya menyayat. Ketika sistem formal absen, justru solidaritas informal yang bekerja. Ketika kebijakan sibuk di atas kertas, rakyat kecil saling menopang di jalanan.

Sementara itu, di ruang-ruang berpendingin udara, angka-angka terus dibacakan: pertumbuhan ekonomi sekian persen, infrastruktur jalan bertambah sekian kilometer, kesejahteraan meningkat sekian poin. Namun tak satu pun angka itu mampu menjelaskan mengapa seorang lelaki tua harus berjalan ratusan kilometer hanya untuk pulang.

Apakah ini sekadar kisah “ketangguhan”? Atau justru bukti bahwa ketangguhan sering kali lahir dari keterpaksaan yang tidak manusiawi?

Perjalanan itu akhirnya tersendat di Karang Kamulyan, Ciamis. Tubuhnya lelah, langkahnya mulai goyah. Di titik itulah, negara yang sejak awal absen, muncul dalam bentuk yang paling sederhana: seorang individu.

Aipda Agus Narto melihatnya. Bukan sebagai data, bukan sebagai angka, tapi sebagai manusia. Ia bertanya, mendengar, lalu bertindak. Mengantar Saeful ke Terminal Banjar, memastikan ia mendapatkan tiket bus.

Sebuah tindakan yang terasa luar biasa, bukan karena besar, tapi karena terlalu jarang.

Di sinilah ironi mencapai puncaknya: ketika empati personal terasa lebih nyata daripada sistem yang seharusnya menjaminnya.

Kisah Saeful bukan seharusnya dijadikan inspirasi. Karena jika penderitaan mulai dirayakan sebagai inspirasi, maka kita sedang menormalisasi kegagalan. Kita sedang diam-diam menerima bahwa untuk pulang, seseorang harus melewati ujian yang tidak adil.

Ini bukan cerita tentang seorang lelaki tua yang kuat. Ini adalah cerita tentang sebuah sistem yang terlalu sering lemah di hadapan warganya sendiri.

Saeful hanya ingin pulang. Namun untuk itu, ia harus membayar dengan langkah, luka, dan waktu—sesuatu yang seharusnya tidak pernah menjadi harga.

Red