ArtikelOpini

Asep dan Jalan Panjang Lebaran: Ketika Rindu Tak Punya Ongkos

144
×

Asep dan Jalan Panjang Lebaran: Ketika Rindu Tak Punya Ongkos

Sebarkan artikel ini

ARTIKEL, Globalindo.Net – Di negeri yang gemar merayakan pulang, Asep justru memulai perjalanan dengan kehilangan.

Namanya Asep, 31 tahun. Seorang pedagang cilok keliling di sudut-sudut Cibaduyut, Bandung, wilayah yang lebih akrab dengan sepatu mahal ketimbang jajanan murah yang ia dorong tiap hari. Dua tahun sudah ia bertahan, bukan hidup, tapi sekadar tidak tumbang. Pendapatannya? Puluhan ribu rupiah sehari, itu pun setelah “berbagi” dengan bosnya. Sisanya cukup untuk makan, tidak cukup untuk bermimpi.

Lebaran datang seperti biasa meriah di televisi, penuh diskon di pusat perbelanjaan, dan… mahal di loket transportasi.

Harga tiket bus melonjak. Bagi sebagian orang, itu hanya angka. Bagi Asep, itu adalah tembok.

Tak ada tiket, tak ada pilihan. Maka Asep memilih sesuatu yang tak pernah masuk brosur mudik mana pun: berjalan kaki sejauh kurang lebih 150 kilometer dari Bandung menuju kampungnya di Sindangih, Ciamis. Bekalnya sederhana, sisa cilok yang tak laku, dan sebotol air minum. Selebihnya, ia membawa sesuatu yang jauh lebih berat: kelelahan yang belum sempat sembuh, dan harapan yang terlalu sering dipaksa sabar.

Ia berjalan bukan karena kuat, tapi karena tak punya alternatif.

Di jalanan yang panjang itu, mungkin ia akan berpapasan dengan baliho ucapan “Selamat Mudik” dari pejabat, dengan senyum lebar dan janji kesejahteraan yang selalu tampak lebih rapi dari kenyataan. Ironisnya, ucapan itu berdiri tegak, sementara rakyat seperti Asep harus terus berjalan.

Negara ini memang pandai merayakan symbol, lampu hias, spanduk, jargon kebersamaan. Tapi sering kali gagap menghadirkan keadilan yang sederhana: ongkos pulang yang manusiawi.

Asep tidak sedang melakukan perjalanan heroik. Ia tidak sedang ingin menjadi inspirasi. Ia hanya ingin pulang.

Namun di negeri ini, bahkan keinginan paling sederhana pun bisa berubah menjadi perjuangan yang nyaris tragis.

Bayangkan, di saat sebagian orang mengeluh macet di dalam mobil ber-AC, Asep mungkin tengah menghitung langkahnya agar tidak kehabisan tenaga sebelum sampai. Di saat keluarga lain sibuk memilih baju baru untuk hari raya, Asep mungkin sibuk memastikan cilok sisa dagangannya cukup untuk bertahan beberapa kilometer lagi.

Ini bukan sekadar cerita kemiskinan. Ini adalah cermin yang terlalu jujur tentang bagaimana sistem bekerja atau lebih tepatnya, tidak bekerja untuk mereka yang berada di lapisan paling bawah.

Mudik, yang seharusnya menjadi momen pulang dengan hangat, berubah menjadi ujian ketahanan fisik dan mental bagi orang seperti Asep. Dan kita, yang membaca kisah ini, sering kali hanya bisa menghela napas, lalu melanjutkan hidup seperti biasa—seolah cerita seperti ini adalah hal yang lumrah.

Asep berjalan kaki sejauh 150 kilometer bukan karena ia luar biasa, tapi karena keadaan memaksanya. Dan mungkin, yang paling menyedihkan bukanlah panjangnya perjalanan itu, melainkan kenyataan bahwa di negeri sebesar ini, masih ada warganya yang harus berjalan sejauh itu hanya untuk bisa pulang.

Red