Hukum & KriminalBeritaCianjur

Dua Labu Siam yang Lebih Mahal dari Nyawa

242
×

Dua Labu Siam yang Lebih Mahal dari Nyawa

Sebarkan artikel ini

CIANJUR, Globalindo.Net – Di sebuah sudut kampung di Desa Talaga, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Sabtu sore itu tampak seperti hari biasa. Matahari sedang menurunkan panasnya, orang-orang mulai bersiap menunggu azan magrib. Ramadan sedang berjalan, dan seperti biasa, banyak orang memikirkan satu hal sederhana: apa yang akan dimakan saat berbuka.

MI (56) juga memikirkan hal yang sama. Bukan untuk pesta. Bukan untuk jamuan besar. Hanya untuk makan sederhana bersama ibunya yang berusia 99 tahun.

Di sebuah kebun, ia melihat dua buah labu siam. Benda kecil yang di pasar mungkin hanya bernilai beberapa ribu rupiah. Sayuran yang biasanya bahkan tak dianggap istimewa di meja makan.

Namun rupanya, di sore itu, dua labu siam memiliki nilai yang jauh lebih besar dari yang pernah dibayangkan siapa pun.

MI mengambilnya. Mungkin karena lapar. Mungkin karena tak punya uang. Atau mungkin hanya karena ia ingin memasak sesuatu untuk ibunya yang hampir seabad hidup di dunia ini.

Sayangnya, kebun itu punya pemilik. UA (41). Dan di negeri yang sering mengajarkan tentang kesabaran, apalagi di bulan puasa, kemarahan justru datang lebih cepat daripada azan magrib.

UA memergoki MI. Ia mengejar pria tua itu. Kejar-kejaran kecil terjadi di kampung yang tenang itu—bukan seperti adegan film, tapi cukup untuk menunjukkan betapa berharganya dua labu siam tersebut.

MI berlari menuju rumahnya. Sebuah tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman. Namun rupanya tidak.

Di depan rumahnya sendiri, MI menerima pukulan dan tendangan. Kepala dan wajahnya menjadi sasaran amarah. Barangkali di saat itu, nilai dua labu siam telah naik drastis—bukan lagi beberapa ribu rupiah, tapi setara dengan harga sebuah nyawa.

Setelah itu MI pulang dengan tubuh yang tak lagi baik-baik saja. Ia pusing. Ia muntah. Ia kemudian pingsan. Dua hari kemudian, Senin (2/3), ia meninggal dunia.

Dan dua labu siam itu akhirnya benar-benar menjadi mahal. Sangat mahal.

Polisi kemudian menetapkan pemilik kebun sebagai tersangka. Proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Negara akhirnya turun tangan—setelah semuanya terjadi.

Di rumah kecil MI, seorang ibu berusia 99 tahun kini harus menghadapi kenyataan yang sulit dipahami logika mana pun: anaknya yang ingin menyiapkan makanan berbuka justru pergi untuk selamanya.

Semua ini terjadi karena dua labu siam. Sebuah ironi kecil dari kehidupan di negeri yang kaya akan tanah subur. Di tempat di mana sayuran tumbuh dengan mudah, tetapi empati kadang lebih sulit ditemukan.

Mungkin suatu hari nanti orang akan mengingat kisah ini dengan satu pelajaran sederhana:

Di Cugenang, dua buah labu siam pernah menjadi lebih mahal dari satu nyawa manusia.

 

Red