KAB BANDUNG, Globalindo.Net – Hujan deras yang mengguyur kawasan Banjaran, Kabupaten Bandung, menyebabkan banjir mendadak di Desa Bojong Manggu, Kecamatan Pameungpeuk. Peristiwa ini terjadi pada Kamis (4/11/2025) sekitar pukul 16.15 WIB ketika air dari hulu secara tiba-tiba meluap ke permukaan melalui saluran irigasi Cipalasari dan Cipadung, mengakibatkan genangan di sejumlah rumah warga.
Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran dan ketidaknyamanan bagi masyarakat setempat. Menurut Dadan (42), salah satu warga desa, banjir ini dipicu oleh intensitas hujan yang cukup tinggi di wilayah sekitar Banjaran. Ia menyebutkan bahwa sekitar 40 rumah warga mengalami masuknya air setinggi kurang lebih 30 sentimeter. “Kami tidak menyangka bahwa hujan deras seperti ini bisa menyebabkan banjir mendadak yang begitu cepat,” ujarnya.
Dampak langsung dari peristiwa ini adalah terganggunya aktivitas masyarakat serta kerusakan pada properti warga. Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung bersama aparat desa langsung turun ke lokasi untuk melakukan evakuasi dan penanganan sementara. Beruntung, tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka akibat kejadian tersebut.
Sementara itu, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Bandung Raya dan seluruh Jawa Barat. Dalam rilisnya, BMKG memperingatkan adanya potensi hujan ringan hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang selama beberapa hari ke depan. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya bencana banjir dan longsor di berbagai daerah.
Kepala Stasiun BMKG Bandung, Teguh Rahayu menjelaskan bahwa kondisi atmosfer wilayah Jawa Barat saat ini sangat mempengaruhi terbentuknya awan hujan konvektif yang cukup intens. Ia menambahkan bahwa gelombang Rossby ekuator dan belokan angin turut memicu perkembangan awan-awan hujan tersebut. “Belokan angin memicu berkembangnya awan-awan konvektif di sebagian besar wilayah Indonesia termasuk Jawa Barat,” katanya.
Para ahli meteorologi menyatakan bahwa fenomena cuaca ekstrem seperti ini diperkirakan akan terus berlangsung dalam beberapa hari ke depan, sehingga masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti imbauan dari pihak berwenang. Selain itu, penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi sistem drainase dan pengelolaan irigasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang dengan dampak yang lebih besar.
Dari pengalaman ini, warga Desa Bojong Manggu berharap adanya peningkatan infrastruktur pengendalian banjir serta sosialisasi kepada masyarakat mengenai langkah-langkah antisipatif saat menghadapi cuaca ekstrem. Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin tak menentu di Indonesia.
Dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan ekstrem akhir-akhir ini, kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan institusi terkait menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana alam sekaligus menjaga keselamatan warga. Pemerintah Kabupaten Bandung sendiri telah berkomitmen untuk mempercepat pembangunan infrastruktur drainase dan memperbaiki sistem irigasi guna mendukung keberlanjutan lingkungan dan keamanan masyarakat di masa mendatang.
Galih












