Beranda

Komunikasi Efektif: FOMO Public Speaking dalam Perspektif Komunikasi

313
×

Komunikasi Efektif: FOMO Public Speaking dalam Perspektif Komunikasi

Sebarkan artikel ini

Oleh ; Wildan Yudha Maulana
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UA

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dalam dunia public speaking muncul ketika individu merasa cemas, tertinggal, atau tidak relevan apabila tidak ikut tampil berbicara di ruang publik—baik di panggung, media sosial, seminar, hingga forum diskusi. Dalam perspektif komunikasi, hal ini tidak hanya berkaitan dengan keterampilan berbicara, tetapi juga kebutuhan seseorang individu untuk diakui dan memiliki pengaruh dalam proses interaksi sosial.

Dalam teori komunikasi antarpribadi, kebutuhan akan social validation (pengakuan sosial) menjadi salah satu pendorong utama. FOMO muncul ketika seseorang melihat orang lain tampil percaya diri dan mendapat apresiasi, sehingga mendorong keinginan untuk ikut tampil—bukan karena kesiapan, tetapi karena takut kehilangan momentum sosial.

Di sisi lain, dalam konteks komunikasi massa, media sosial semakin memperkuat efek FOMO dengan hanya menampilkan dimana seseorang memamerkan “keberhasilan panggung”-nya dalam public speaking. Begitulah algoritma juga berperan menciptakan tekanan sosial bahwa public speaking adalah standar kompetensi yang wajib dimiliki generasi sekarang. Hal ini akan membuat individu yang merasa kurang mampu cenderung diam, tapi di saat yang sama terdorong melawan rasa takut itu agar tetap dianggap “ada” dalam percakapan publik.

Namun, komunikasi efektif menuntut lebih dari sekadar tampil bicara. Karena terciptanya komunikasi yang efektif dalam public speaking bergantung pada tiga elemen utama: ethos (kredibilitas), logos (kekuatan argumentasi), dan pathos (kemampuan menyentuh emosi audiens). Tidak hanya itu. Agar tercipta komunikasi yang efektif seorang komunikator haruslah mengetahui kepada siapa ia akan berbicara—dengan tidak menggunakan bahasa-bahasa yang “tinggi” jika audience-nya terlihat akan memahami materi. Jika FOMO hanya mendorong seseorang untuk berbicara tanpa persiapan, hal ini justru berisiko menurunkan kualitas pesan, bahkan menciptakan noise (gangguan) dalam proses komunikasi.

Tidak hanya itu. FOMO dalam public speaking juga bisa dikatakan sebagai “pembodohan”, jika komunikator tidak memiliki referensi yang kuat dalam menyampaikan materinya karena hanya berlandaskan pada kebutuhan eksistensial semata. Bukan dapat ilmu dalam materi yang disampaikan secara utuh, melainkan ilmu yang setengah-setengah karena “ketidakkokohan” argumentasi. Bukan kebenaran yang didapatkan, melainkan “kesesatan persepsi” karena komunikator tidak mengerti kepada siapa ia sedang menyampaikan pesan.

Maka, FOMO dalam public speaking harus dikelola dengan baik agar menjadi hal positive—bukan sekadar keinginan tampil, tetapi motivasi untuk menyiapkan pesan yang bermakna, mengasah kemampuan, dan memahami audiens. Public speaking yang efektif bukan tentang siapa yang paling sering bicara, melainkan siapa yang paling mampu menyampaikan pesan secara jelas, relevan, dan berdampak.