BeritaJawa BaratKabupaten BandungKesehatanPeristiwa

Geger Penemuan Mayat Ibu Dan 2 Anak Tewas Mengenaskan, Secarik Kertas Jadi Petunjuk

229
×

Geger Penemuan Mayat Ibu Dan 2 Anak Tewas Mengenaskan, Secarik Kertas Jadi Petunjuk

Sebarkan artikel ini

KAB BANDUNG, Globalindo.Net – Seorang ibu di Bandung ditemukan tak bernyawa setelah diduga bunuh diri. Sementara itu, kedua anaknya yang berusia 1 dan 5 tahun juga ditemukan meninggal dunia dan diduga diracun oleh sang ibu.

Kejadian tersebut terjadi di Banjaran, Kabupaten Bandung dan diketahui pada Jumat (5/9). Di lokasi kejadian ditemukan surat wasiat yang diduga ditulis oleh si ibu.

Iya benar ada kejadian tersebut,” ungkap Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan, saat dikonfirmasi pada Jumat (5/9). “Diduga bunuh diri, ditemukan juga surat wasiat.”

Hendra menuturkan si ibu ditemukan di tiang pintu kamar, sementara dua anaknya yang juga sudah tidak bernyawa ditemukan tergeletak di dalam rumah mereka.

Saat ini, tim kepolisian tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut kematian ketiganya.

Berdasarkan surat wasiat yang ditemukan, pelaku mencurahkan isi hatinya yang lelah dalam menghadapi perilaku suaminya yang disebut kerap berbohong dan berutang hingga tak lagi bisa diketahui jumlahnya.

Si ibu juga menyebut dirinya malu dan kasihan karena merasa membebani keluarganya yang lain akibat masalah rumah tangganya itu. Ia pun meminta maaf kepada keluarga dan anak-anaknya atas tindakannya tersebut.

Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di sebuah rumah di Kampung Cae, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, usai penemuan tiga jenazah—perempuan berinisial EN (34) dan dua anaknya, AA (9) dan AAP (11 bulan) dengan kondisi leher terjerat tali. Ketiganya diduga tewas akibat bunuh diri pada Jumat (5/9) dini hari.

Di dalam rumah tersebut, polisi menemukan secarik kertas tertempel pada dinding, diduga ditulis tangan oleh EN sebelum ia memutuskan meregang nyawa.

Kertas itu pun kini diamankan oleh pihak kepolisian beserta satu unit ponsel sebagai barang bukti.

“Barang bukti tersebut kini diamankan untuk penyelidikan lebih lanjut,” kata Kasat Reskrim Polresta Bandung Kompol Olot Luthfi Gigantara saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (5/9).

Dari foto yang diterima, kertas itu berisi curahan hati yang ditulis tangan dalam bahasa Sunda. Tulisan itu mengungkapkan sejumlah hal mulai dari permintaan maaf kepada keluarga, hingga alasan mengambil keputusan bunuh diri.

Adapun isi lengkapnya sebagai berikut:

Versi Sunda:

Mamah, bapa, ema, bapa, teteh, aa sadayana hampura abi, hampura abi ngakakukeun kieu.

abi tos cape lahir batin, abi tos teu kuat ngajalani hirup kieu, abi cape hirup ngagugulung hutang nu euweuh beresna, kalah beuki nambahan beuki dieu teh. Bari abi te apal hutang ka saha wae, sabaraha atawa urut naon.

Abi cape boga salaki gede bohong wae teh, euweuh sadarna. Abi cape dinyerihatekeun wae teh, puguh ning ku batur geus dikucilkeun, pada ngomong keun, pada mikangewa bari jeung teu rumasa salah.

Boga salaki kalah hayoh we gede bohong jeung gede hutang, CAPEEEEEEEEEEEEE sugan abi jeung budak geus maot mah aya sadarna, mun henteu sadar ge keun bae nu penting teu nyangsarakeun ka budak abi.

Era karunya ngahesekeun wae lanceuk + kolot teh, abi geus eweuh mah moal ngahesekeun wae.

Hampura abi teu bisa mulang tarima KA kolot jeung lanceuk.

Aa Alif, Dede Arlan, hampura mamahnya. Jalana kudu kieu, bakat ku nyaah mamah teh, daripada ditinggalkeun ku mamah, karunya ka ema.

Mamah leuwih rido ka naraka daripada ninggal Aa + dede sangsara. Da Aa + dede mah can gaduh dosa. keun we mamah nu nanggung dosana ka naraka, teu rido hirup dibawa susah Wae ku mamah teh.

Hampura mamah teu tiasa nyumponan Sagala kabutuhan Aa + dede, hampura mamah teu tiasa ngabahagiakeun Aa + dede. Hampura aa teu jadi tari nya. hampura Mamah. Aa + dede mah Insha Alloh ka surga.

Versi Bahasa Indonesia:

Mamah, bapa, ema, bapa, teteh, dan aa, maafkan saya. Maafkan saya melakukan hal ini.

Saya sudah lelah lahir batin, saya sudah tidak kuat menjalani hidup seperti ini. Saya lelah hidup terus-terusan terlilit utang yang tidak ada habisnya, malah semakin hari semakin bertambah. Padahal, saya tidak tahu utang kepada siapa saja, berapa jumlahnya, atau utang dari mana…

Saya lelah punya suami yang selalu bohong, tidak ada kesadarannya sama sekali. Saya lelah terus-menerus disakiti hatinya, sudah jelas-jelas dikucilkan orang lain, diomongin, dibenci, padahal tidak merasa berbuat salah.

Punya suami malah terus-terusan berbohong dan berutang. SAYA SANGAT LELAH. Saya harap, jika saya dan anak-anak sudah meninggal, dia akan sadar. Jika tidak sadar pun tidak apa-apa, yang penting tidak menyengsarakan anak-anak saya.

Saya malu dan kasihan selalu menyusahkan kakak-kakak dan orang tua. Jika saya sudah tidak ada, saya tidak akan menyusahkan lagi.

Maafkan saya tidak bisa membalas budi kepada orang tua dan kakak-kakak.

Kepada: Aa Alif dan Dede Arlan

Aa Alif, Dede Arlan, maafkan mamah. Jalannya harus seperti ini, karena mamah sangat sayang. Daripada ditinggalkan oleh mamah, kasihan pada nenek…

Mamah lebih rela ke neraka daripada melihat Aa dan dede sengsara. Sebab, Aa dan dede belum punya dosa. Biar mamah saja yang menanggung dosanya ke neraka. Mamah tidak rela hidup terus-terusan susah.

Maafkan mamah tidak bisa memenuhi segala kebutuhan Aa dan dede. Maafkan mamah tidak bisa membahagiakan Aa dan dede.

Maafkan mamah, Aa tidak jadi menari ya. Maafkan mamah.

 

Red