Arjasa – Sabtu malam, 16 Agustus 2025, halaman Kantor Kecamatan Arjasa disulap menjadi ruang kebersamaan. Malam itu, bukan sekadar malam jelang detik-detik proklamasi, tetapi juga sebuah panggung sejarah kecil yang merekatkan masyarakat Kangean dalam semangat Dirgahayu Republik Indonesia ke-80.
Bendera Merah Putih yang berkibar di depan kantor kecamatan, diterangi sorot lampu, seakan menjadi saksi bisu betapa syukur dan doa bercampur menjadi satu. Di tengah hiruk pikuk dunia, masyarakat Arjasa membuktikan bahwa kemerdekaan tidak hanya diperingati, tetapi juga dimaknai dengan sepenuh hati.
Malam tasyakuran ini dihadiri berbagai elemen masyarakat. Dari jajaran Polsek Kangean, Koramil 0827/18 Kangean, Kepala Lapas, hingga para kepala desa beserta perangkatnya. Tak ketinggalan hadir pula anggota paskibraka yang tengah mempersiapkan diri menyambut tugas sakral mereka, serta perwakilan dari instansi pendidikan, kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, insan media, hingga LSM.
Kehadiran lintas elemen itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tanda bahwa semangat kemerdekaan harus dijaga secara bersama. Bahwa di Arjasa, persatuan bukan hanya slogan, melainkan denyut nadi yang nyata terasa.

Satu-satunya sambutan malam itu datang dari Camat Arjasa. Dengan suara lantang dan penuh semangat kebangsaan, beliau mengajak seluruh elemen untuk senantiasa bersinergi.
“Kemerdekaan ini adalah warisan luhur dari para pahlawan. Tugas kita hari ini adalah mengisinya dengan kerja nyata, pelayanan terbaik, dan sinergi tanpa sekat. Baik pendidikan, kesehatan, maupun pemerintahan desa, semua harus bersatu demi kemaslahatan masyarakat Arjasa,” ucapnya,
Khusus kepada para paskibraka, Camat Arjasa berpesan agar menjaga kesehatan dengan baik. “Anak-anakku, kalian adalah kebanggaan kami. Jagalah fisik dan jiwa kalian, karena tugas suci mengibarkan Sang Merah Putih bukan sekadar seremoni, melainkan kehormatan bangsa. Kibarkanlah bendera dengan sepenuh hati, karena di pundak kalian melekat harapan masyarakat Arjasa,” pesannya penuh ketegasan dan kasih.
Selepas sambutan, suasana malam kian hidup ketika lantunan hadroh dari Jami’iyah Tanbirul Arobih Desa Angkatan pimpinan Bapak Ibrahim menggema. Irama rebana dan syair religius yang dibawakan, menjadikan malam itu bukan sekadar seremoni, tetapi juga doa kolektif. Seolah setiap dentuman rebana mengingatkan bahwa kemerdekaan adalah karunia yang wajib disyukuri, dan setiap syair adalah permohonan agar bangsa ini terus diberkahi persatuan.
Malam tasyakuran Dirgahayu RI ke-80 di Kecamatan Arjasa bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah momentum untuk mengikat kebersamaan, mengokohkan persaudaraan, dan menyuarakan pesan persatuan dari pelosok Kangean ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Dari Arjasa, semangat kebersamaan itu berkumandang: bahwa merdeka bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, melainkan juga tentang kemampuan untuk bersatu, bersinergi, dan berbakti bagi tanah air.
Pewarta : Hariyanto












