JAWA TIMURSumenep

Pendidikan: Api yang Membebaskan atau Rantai yang Menjerat?

181
×

Pendidikan: Api yang Membebaskan atau Rantai yang Menjerat?

Sebarkan artikel ini
Hariyanto, S.Pd Pemerhati Pendidikan

“Pendidikan tak pernah netral; ia bisa menjadi alat untuk membebaskan jiwa, atau justru menindasnya dalam diam.”

Setiap sistem pendidikan bukan sekadar kumpulan pelajaran dan ujian. Ia adalah cermin nilai-nilai yang diusung oleh kekuasaan. Ia membentuk cara kita berpikir, merasakan, dan bertindak.

Di tangan yang keliru, pendidikan menjadi alat penjinak:
mencetak generasi patuh,
yang hafal tanpa mengerti,
yang tunduk tanpa bertanya.

Namun, di tangan yang bijak,
pendidikan adalah api—menyala, membakar, dan menerangi.
Ia membangkitkan kesadaran,
membangun keberanian,
dan menanamkan nilai keadilan.

Sebagaimana para filsuf dan guru arif mengajarkan,
pendidikan seharusnya membebaskan, bukan mengurung.
Menghidupkan pikiran, bukan mematikan daya kritis.
Mengajarkan berpikir, bukan hanya menghafal.

Epictetus pernah berkata:
“Pendidikan sejati adalah kemampuan membedakan
apa yang ada dalam kuasamu dan apa yang tidak.”
Itulah bentuk tertinggi dari kebebasan.

Sayangnya, dalam dunia modern,
pendidikan kerap dibajak oleh kepentingan.
Kurikulum didesain bukan untuk membentuk manusia merdeka,
tetapi untuk melahirkan tenaga kerja taat.
Anak-anak diajarkan menjawab, bukan bertanya.
Menyesuaikan, bukan menggugat.

Padahal, pendidikan sejati bukanlah proses mengisi bejana,
melainkan menyalakan api.

Misi tertinggi pendidikan adalah membentuk manusia yang utuh—
yang berpikir kritis,
berani berdiri di sisi kebenaran,
dan tak mudah tunduk pada sistem yang menyesatkan.

Tanpa kesadaran itu,
pendidikan hanyalah alat kekuasaan
yang membungkus penindasan dengan jargon kemajuan.

Maka jangan jadikan pendidikan sebagai tangga menuju jabatan,
tapi jembatan menuju kebebasan jiwa.
Belajarlah untuk hidup,
bukan sekadar untuk lulus.

Oleh: Hariyanto, S.Pd
Pemerhati Pendidikan