Opini: oleh Holib Rahman
Sumenep, Orang yang mudah berjanji, tapi kerap mengingkarinya, sebenarnya sedang membangun tembok kepercayaan yang runtuh perlahan. Setiap janji yang diingkari adalah satu kebohongan kecil yang berkata. “kata-kataku tidak perlu kamu pegang”.
Prinsip bukan soal siapa yang paling lantang berbicara, tapi siapa yang paling konsisten melakukannya.
“Seseorang yang tidak menjaga janjinya, tidak layak dipercaya sekali pun untuk hal-hal kecil.”
Ingkar janji bukan sekadar lupa, seringkali itu soal prioritas. Bagi mereka, kenyamanan atau keinginan sendiri lebih penting daripada kepercayaan yang telah diberikan orang lain. Kebohongan pun tumbuh subur di sana menutupi satu lupa dengan alasan lain, lalu alasan lain lagi.
Lebih baik seseorang berkata “tidak bisa” sejak awal, daripada berjanji “akan ada” tapi tak pernah hadir. Kejujuran mungkin menyakitkan sesaat, tapi ingkar janji melukai kepercayaan untuk waktu yang lama.
Prinsip kita adalah batas yang tidak boleh dilanggar, tidak harus menurunkan standar hanya agar orang lain merasa nyaman. Jika seseorang terbiasa berbohong dan mengingkari kata-katanya, itu bukan masalah kita itu cerminan karakter mereka sendiri.
Kita tidak bisa mengubah siapa orang lain, tapi kita bisa memilih siapa yang pantas berdiri di dekat kita. Jangan turunkan harga diri hanya karena mereka tidak mampu menjaga kata-katanya.












