JAWA TIMURMaduraSumenep

Viral Aksi Hormat Bendera, Pemulung 73 Tahun di Banyuwangi Dapat Apresiasi Dari MH Said Abdullah Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim

35
×

Viral Aksi Hormat Bendera, Pemulung 73 Tahun di Banyuwangi Dapat Apresiasi Dari MH Said Abdullah Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim

Sebarkan artikel ini

BANYUWANGI,Globalindo.net — Sebuah video berisi aksi mengharukan seorang pemulung berusia 73 tahun di Banyuwangi yang berdiri tegak memberi hormat saat Bendera Merah Putih diturunkan menjadi viral di media sosial. Kejadian ini pun menyita perhatian Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Provinsi Jawa Timur.

Sosok yang tampil dalam rekaman tersebut adalah Suwarno, atau akrab disapa Mbah No, warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Dalam video itu terlihat jelas, Mbah No yang saat itu sedang mengais rongsokan memilih berhenti sejenak dari aktivitasnya untuk menghormati pelaksanaan upacara penurunan bendera peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Untung Suropati. Ia berdiri tegap dengan pakaian yang tampak lusuh dan karung rongsokan berada di sampingnya, tanpa diundang maupun terdaftar sebagai peserta upacara.

Tindakan sederhana namun sarat penghayatan itu membuat Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, MH Said Abdullah, merasa sangat terharu. Sebagai wujud penghargaan dan kepedulian, DPD PDI Perjuangan Jatim memberikan bantuan tali asih kepada Mbah No.

Penyerahan bantuan tersebut disalurkan langsung oleh utusan DPD PDI Perjuangan Jatim, yaitu Mas Ilham dan Ahmadi Nur Panji atau yang akrab disapa Gus Mayor selaku kader PDI Perjuangan Jawa Timur. Kegiatan penyerahan berlangsung di kediaman Mbah No di Desa Tambakrejo, didampingi oleh Kepala Desa Tambakrejo, Alfen Efendi, pada Jumat (21/08/2026).

Dalam pertemuan tersebut terungkap fakta menyentuh hati bahwa Mbah No ternyata sudah menjadi simpatisan Partai Nasional Indonesia (PNI) hingga ke PDI sejak masa mudanya.

Ia dengan tegas mengaku sebagai pengikut setia ajaran Bung Karno. Dengan logat khas Madura yang lugas, Mbah No menyampaikan kalimat yang penuh makna: “Sampek gepeng melu Banteng.”

“Ini adalah bukti nyata bahwa semangat nasionalisme tidak pernah memandang status sosial. Dari sosok seorang pemulung, kita justru diajarkan tentang arti cinta tanah air yang sesungguhnya,” ujar Mas Ilham menirukan pesan dari Martin H., S.H., M.H., selaku Wakil Ketua Bidang Advokasi dan Hukum DPD PDI Perjuangan Jatim.

Kisah Mbah No menjadi pengingat yang mendalam bagi kita semua, bahwa semangat menghormati Sang Saka Merah Putih dan rasa cinta kepada Indonesia masih hidup dan menyala, bahkan di tengah kehidupan yang sangat sederhana.

Kecintaannya terhadap tanah air menjadi pemicu semangatnya memikul harapan yang tersimpan di ribuan karung, sambil menatap makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Seragam yang dikenakan mungkin lusuh, basah oleh keringat yang bercampur dengan barang bekas dan logam recehan, namun rasa hormatnya terhadap bendera negara adalah harga mati yang tak tergoyahkan.

Menurut Ilham, sebagai seorang pemulung, penghasilan Mbah No mungkin hanya cukup sekadar untuk menyambung hidup sehari-hari. Namun, apa yang telah beliau lakukan saat itu menjadi tamparan keras bagi kita semua, yang terkadang justru mengabaikan dan meremehkan nilai-nilai nasionalisme.”

Pewarta: HR

Tinggalkan Balasan