Jakarta

Ruang Damai Bahas Makna Merdeka dalam Keberagaman

23
×

Ruang Damai Bahas Makna Merdeka dalam Keberagaman

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, Globalindo.net – Momentum Hari Kemerdekaan menjadi ruang refleksi untuk memahami kembali makna kebebasan, keberagaman, dan kebersamaan sebagai bagian dari perjalanan Indonesia. Hal tersebut dibahas dalam kegiatan Bincang Damai yang digelar Ruang Damai dengan tema “Menjadi Indonesia: Merdeka, Berbeda dan Tetap Bersama” melalui Zoom Meeting pada Senin, 17 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Showcase Ruang Damai Exhibition 2026 yang menandai perjalanan lima tahun Ruang Damai. Diskusi menghadirkan Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, serta Ketua Umum Pengurus Pusat Mahasiswa Buddhis Indonesia periode 2026–2028, Apt. Agustina, S.Farm.

Direktur Eksekutif Ruang Damai, Zainal Abidin, mengatakan Bincang Damai edisi kemerdekaan menghadirkan perspektif lintas generasi dan identitas untuk melihat kembali arti kemerdekaan serta toleransi dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

“Merdeka tidak hanya dimaknai tentang bebas saja, tetapi kita merdeka berpikir, merdeka menjadi diri sendiri, dan merdeka untuk terus bertumbuh,” ujar Zainal.

Menurutnya, keberagaman Indonesia menjadi bagian penting yang perlu terus dirawat melalui ruang dialog dan perjumpaan. Karena itu, momentum kemerdekaan dinilai tepat untuk merefleksikan bagaimana masyarakat dapat tetap berbeda tanpa kehilangan semangat untuk hidup bersama.

Prof. Semiarto Aji Purwanto kemudian membahas proses menjadi Indonesia yang berlangsung sejak Sumpah Pemuda 1928 hingga berbagai perubahan sosial pada 1998. Ia menjelaskan bahwa perjalanan tersebut terus mengalami transformasi seiring perkembangan teknologi, budaya, peraturan, dan sistem kehidupan masyarakat.

“Kemerdekaan harus berarti ruang untuk menjadi diri sendiri. Tentu untuk mewujudkan toleransi dengan hadir secara penuh dalam interaksi, perjumpaan, dan kerja bersama lintas identitas,” jelasnya.

Sementara itu, Apt. Agustina menyoroti peran generasi Z dalam merawat toleransi di tengah perkembangan ruang digital yang ditandai dengan arus informasi yang semakin cepat. Menurutnya, nilai toleransi dapat dibangun melalui penghayatan nilai Brahmavihara dalam ajaran Buddha, yakni Metta atau cinta kasih, Karuna atau welas asih, Mudita atau turut bersukacita atas keberhasilan orang lain, serta Upekkha atau keseimbangan batin.

Melalui Bincang Damai ini, Ruang Damai mendorong agar kemerdekaan terus dimaknai sebagai kesempatan untuk hidup berdampingan, menghargai perbedaan, dan membangun Indonesia melalui kerja bersama lintas identitas.

Pewarta: Akbar Trio Mashuri

Tinggalkan Balasan