KesehatanArtikel

Gejalanya Mirip Demam Biasa, Tapi Virus Ini Bisa Mematikan: Kenali Hantavirus

30
×

Gejalanya Mirip Demam Biasa, Tapi Virus Ini Bisa Mematikan: Kenali Hantavirus

Sebarkan artikel ini
Gambar Ilustrasi Ai

JAKARTA, Globalindo.Net – Di tengah perhatian publik yang masih terfokus pada dengue, COVID-19, hingga leptospirosis, terdapat satu ancaman kesehatan yang diam-diam terus mengintai: hantavirus. Penyakit zoonosis yang ditularkan melalui tikus ini disebut memiliki potensi fatal tinggi, namun masih minim kesadaran publik dan kerap luput dari diagnosis medis.

Para peneliti dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI mengingatkan bahwa Indonesia bukan wilayah bebas hantavirus. Virus ini bahkan telah terdeteksi sejak puluhan tahun lalu dan diyakini terus beredar di berbagai wilayah perkotaan maupun permukiman padat penduduk.

Ancaman yang Nyaris Tak Terdeteksi

Berbeda dengan penyakit menular lain yang cepat menyedot perhatian media, hantavirus bergerak secara “sunyi”. Virus ini tidak menular antar manusia seperti influenza atau COVID-19, tetapi justru menyebar melalui lingkungan yang terkontaminasi kotoran tikus.

Paparan dapat terjadi ketika seseorang menghirup udara yang mengandung partikel urin, feses, atau saliva tikus yang mengering dan bercampur debu. Risiko juga muncul melalui kontak langsung dengan rodensia atau permukaan tercemar.

Ironisnya, banyak masyarakat tidak menyadari bahwa aktivitas sederhana seperti membersihkan gudang, menyapu rumah yang penuh jejak tikus, atau berada di lingkungan dengan sanitasi buruk bisa menjadi pintu masuk infeksi.

Sudah Lama Ada di Indonesia

Penelitian yang dilakukan di berbagai kota besar menunjukkan bahwa hantavirus bukan ancaman baru. Studi serologis menemukan tingkat paparan pada manusia mencapai sekitar 11,6 persen. Artinya, setidaknya satu dari 10 orang pernah terpapar virus tersebut, meskipun tidak selalu terdiagnosis.

Sementara itu, pada populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksi ditemukan berkisar antara 0 hingga 34 persen. Fakta ini menunjukkan virus masih aktif beredar di lingkungan masyarakat.

Virus yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah Seoul virus (SEOV) yang dibawa oleh tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus — dua spesies yang hidup sangat dekat dengan manusia.

Gejala Mirip Penyakit Umum

Salah satu alasan hantavirus sering tidak terdeteksi adalah karena gejalanya menyerupai penyakit lain yang lebih umum di Indonesia.

Penderita biasanya mengalami:

  • Demam tinggi
  • Nyeri otot
  • Mual dan muntah
  • Kelelahan berat
  • Sakit kepala

Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan ginjal, perdarahan, hingga gagal napas akut.

Fenomena ini dikenal sebagai iceberg phenomenon, di mana kasus yang terlihat hanya sebagian kecil dari jumlah sebenarnya yang tersembunyi di masyarakat.

Dua Bentuk Penyakit Mematikan

Hantavirus memiliki dua manifestasi utama yang sama-sama berbahaya.

1. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)

Jenis ini banyak ditemukan di Asia dan Eropa. Penyakit menyerang pembuluh darah dan ginjal dengan gejala perdarahan serta gagal ginjal.

2. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)

Lebih banyak ditemukan di Amerika, tetapi dikenal sangat mematikan karena menyerang paru-paru dan menyebabkan gagal napas akut.

Tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) pada beberapa jenis hantavirus bahkan dapat mencapai 50 persen.

Kota Besar Justru Berisiko Tinggi

Berbeda dengan anggapan umum bahwa penyakit zoonosis hanya muncul di daerah terpencil, penelitian menunjukkan hantavirus juga ditemukan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, hingga Denpasar.

Kepadatan penduduk, buruknya sanitasi, sistem pengelolaan sampah yang tidak optimal, serta tingginya populasi tikus perkotaan dinilai menjadi faktor utama peningkatan risiko.

Para ahli juga menyoroti perubahan iklim dan urbanisasi sebagai pemicu meningkatnya populasi rodensia dan perluasan habitat pembawa virus.

Indonesia Dinilai Rentan

Indonesia dinilai berada pada posisi rawan karena memiliki kombinasi faktor risiko yang lengkap:

  • Iklim tropis yang mendukung perkembangan tikus
  • Permukiman padat
  • Sanitasi lingkungan yang belum merata
  • Tingginya interaksi manusia dengan rodensia

Selain itu, keterbatasan diagnosis membuat banyak kasus diduga tidak tercatat secara resmi.

Bukan Sekadar Masalah Kesehatan

Hantavirus disebut sebagai contoh nyata pendekatan One Health, yakni keterkaitan erat antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Karena hingga kini belum tersedia vaksin yang digunakan secara luas, pengendalian penyakit lebih difokuskan pada:

  • Pengurangan populasi tikus
  • Perbaikan sanitasi lingkungan
  • Edukasi masyarakat
  • Penguatan surveilans penyakit
  • Pengendalian zoonosis berbasis komunitas

Program seperti Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dinilai dapat menjadi salah satu strategi penting untuk menekan risiko penyebaran.

Langkah yang Harus Dilakukan

Para peneliti mendorong pemerintah untuk segera memperkuat sistem deteksi dini dan pengawasan hantavirus di Indonesia.

Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain:

  1. Memasukkan hantavirus dalam surveilans sindromik demam akut
  2. Memperluas pemeriksaan PCR dan serologi di rumah sakit rujukan
  3. Menggalakkan pengendalian tikus berbasis komunitas
  4. Meningkatkan edukasi publik terkait bahaya paparan kotoran tikus
  5. Mengintegrasikan pengendalian hantavirus dengan program kesehatan lingkungan nasional

Ancaman yang Tak Boleh Lagi Diabaikan

Hantavirus mungkin belum menjadi sorotan besar seperti pandemi global lainnya. Namun para ahli mengingatkan bahwa ancaman terbesar sering kali datang dari penyakit yang diabaikan.

Dengan bukti ilmiah yang terus berkembang, keberadaan reservoir tikus yang melimpah, serta potensi fatalitas tinggi, hantavirus disebut berpotensi menjadi “kejutan epidemiologis” berikutnya jika pengawasan dan pengendalian tidak segera diperkuat.

Kini pertanyaannya bukan lagi apakah hantavirus ada di Indonesia, melainkan seberapa besar ancaman yang selama ini belum terlihat di balik bayang-bayang penyakit lain.

 

Sumber :Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK)

Tinggalkan Balasan