SumenepJAWA TIMUR

10 Mei, Banteng Sakera Nahdliyin Memperingati Jejak Bersejarah Bung Karno di Sumenep

32
×

10 Mei, Banteng Sakera Nahdliyin Memperingati Jejak Bersejarah Bung Karno di Sumenep

Sebarkan artikel ini

SUMENEP,Globalindo.net – Setiap tanggal 10 Mei, ingatan sejarah kembali diarahkan pada momen bersejarah di Kabupaten Sumenep. Organisasi Banteng Sakera Nahdliyin secara khusus memperingati jejak kunjungan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, ke tanah Madura tepat pada tanggal yang sama pada tahun 1951 silam. Momen ini dianggap sebagai bagian penting dari sejarah perjuangan, persatuan, dan pembangunan semangat kebangsaan di masa awal kemerdekaan.

Ketua Banteng Sakera Nahdliyin, Maryono, menyampaikan hal tersebut saat kegiatan peringatan yang digelar, Minggu (10/5/2026). Menurutnya, kehadiran Bung Karno di Sumenep bukan sekadar kunjungan kenegaraan biasa, melainkan tonggak sejarah yang menguatkan ikatan antara pemerintah pusat dengan masyarakat daerah, serta menanamkan nilai-nilai persatuan di tengah keberagaman bangsa.

“Kunjungan Bung Karno ke Sumenep menjadi bab penting dalam sejarah Madura. Di masa-masa awal kemerdekaan, kehadiran beliau sangat berarti untuk membangkitkan semangat kebangsaan, mempererat persatuan, dan menyampaikan harapan besar bagi kemajuan daerah ini,” ungkap Maryono.

Ada sejumlah lokasi yang hingga kini masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Sumenep sebagai saksi bisu jejak langkah Sang Proklamator. Salah satu yang paling dikenal adalah Masjid Gema yang terletak di kawasan Prenduan. Melalui cerita tutur yang diwariskan dari generasi ke generasi, masyarakat meyakini masjid ini sempat disinggahi Bung Karno saat berkunjung. Kehadiran beliau di tempat ibadah ini dinilai menunjukkan sosok Bung Karno yang tidak hanya dekat dengan urusan kenegaraan, tetapi juga sangat menghargai dan dekat dengan kehidupan masyarakat serta nilai-nilai keagamaan yang dipegang teguh warga setempat.

“Masjid Gema kini menjadi bagian dari memori sejarah yang tak terpisahkan. Ini bukti nyata bahwa Bung Karno selalu menempatkan nilai luhur dan agama sebagai fondasi bangsa, serta selalu hadir di tengah rakyatnya, bukan hanya di ruang pemerintahan,” tambah Maryono.

Selain kawasan Prenduan dan Masjid Gema, Bung Karno juga tercatat mengunjungi Kawasan Kota Tua Kalianget. Pada masa itu, wilayah ini dikenal luas sebagai pusat industri garam terbesar dan terpenting di Pulau Madura. Kunjungan beliau ke pusat kegiatan ekonomi rakyat ini dipahami sebagai bentuk perhatian serius pemerintah terhadap potensi ekonomi masyarakat, serta dukungan agar hasil bumi dan keterampilan warga dapat menjadi kekuatan besar bagi perekonomian nasional.

Dokumentasi resmi dari Arsip Nasional Republik Indonesia juga mencatat fakta penting lainnya: pada 10 Mei 1951 tersebut, Bung Karno secara khusus menyempatkan diri mengunjungi Asrama Rehabilitasi Tentara Pejuang di Sumenep. Langkah ini menjadi simbol penghormatan tertinggi negara terhadap para pejuang kemerdekaan, para pahlawan yang telah berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa pasca proklamasi. Kunjungan itu menjadi pesan bahwa negara tidak akan pernah melupakan jasa dan pengorbanan anak-anak bangsa.

Maryono menegaskan, peringatan kehadiran Bung Karno setiap tanggal 10 Mei ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan upaya menjaga kesadaran sejarah bagi generasi muda. Jejak Bung Karno di Sumenep adalah warisan yang mengandung pelajaran besar tentang semangat perjuangan, persatuan, dan cinta tanah air.

“Jejak Bung Karno di Sumenep bukan sekadar cerita masa lalu yang selesai dibaca dan dilupakan. Ini adalah warisan sejarah hidup yang mengajarkan kita untuk terus berjuang, menjaga persatuan, dan mencintai daerah serta bangsa ini. Kami berharap generasi muda tidak melupakan sejarah daerahnya sendiri, karena dari sejarah itulah kita belajar membangun masa depan,” pungkas Maryono.”

Pewarta: HR-Eka

Tinggalkan Balasan