ArtikelJawa Tengah

Di Balik Riuh Sedekah Bumi Bulu: Saat Tradisi Menjadi Ruang Harapan dan Kebersamaan

38
×

Di Balik Riuh Sedekah Bumi Bulu: Saat Tradisi Menjadi Ruang Harapan dan Kebersamaan

Sebarkan artikel ini

Jepara Pagi ini tanggal  3/5 2026 , Kelurahan Bulu tidak seperti biasanya. Jalanan yang biasa dilalui dengan ritme pelan, mendadak dipenuhi tawa, langkah kaki, dan sapaan hangat antarwarga. Di bawah langit yang masih teduh, ratusan orang berkumpul—bukan sekadar untuk meramaikan acara, tetapi untuk merayakan kebersamaan yang mungkin jarang mereka rasakan dalam keseharian.

Lebih dari 500 warga tumpah ruah mengikuti senam bersama dan jalan sehat. Ada anak-anak yang berlari kecil mendahului orang tuanya, ibu-ibu yang tertawa di sela gerakan senam, hingga para lansia yang tetap bersemangat berjalan pelan namun pasti. Semua menyatu dalam satu irama: guyub.

Di tengah keramaian itu, Lurah Bulu, Ashadi tampak beberapa kali menghela napas panjang—bukan karena lelah, tetapi karena haru. Ia tak menyangka antusiasme warga begitu besar.

“Di luar perkiraan kami… ini luar biasa,” ucapnya lirih, matanya menyapu kerumunan yang terus berdatangan.

Hari itu, Sedekah Bumi tidak lagi sekadar tradisi. Ia menjelma menjadi ruang temu—antara generasi tua yang menjaga nilai, dan generasi muda yang memberi warna baru.

Setelah tubuh digerakkan melalui senam dan jalan sehat, warga bergantian mendatangi layanan cek kesehatan gratis. Di sudut itu, tampak seorang bapak sepuh  Dwiyogo tersenyum lega usai memeriksakan tekanan darah dan gula darahnya  “Alhamdulillah, sehat,” katanya singkat, namun penuh arti. Hal-hal sederhana seperti ini yang sering luput, kini justru menjadi bagian penting dari perayaan.

Di sisi lain, suara drumband mulai menggema, disusul denting tongtek dengan irama khas Jawa yang dimodernkan. Anak-anak muda memainkan musik dengan penuh percaya diri—seolah ingin mengatakan bahwa tradisi tidak pernah usang, hanya perlu diberi ruang untuk berkembang.

Tak jauh dari sana, panggung tari menjadi saksi bagaimana generasi muda mengekspresikan diri. Gerakan tari kontemporer berpadu dengan pakem Jawa, menciptakan cerita baru tanpa memutus akar lama.

Wakil Ketua DPRD Jepara  M. Rizal, yang juga warga setempat, berdiri di antara masyarakat—tidak berjarak. Ia menyampaikan pesan sederhana namun mengena:

“Tradisi harus hidup, tapi juga harus memberi manfaat. Di sinilah kita belajar, bahwa kebersamaan adalah kekuatan.”

Namun lebih dari itu, Sedekah Bumi sesungguhnya menyimpan suara yang lebih dalam—suara leluhur yang seolah berbisik di antara riuh acara.

“Urip iku urup”—hidup itu hendaknya memberi manfaat.

“Memayu hayuning bawana”—manusia punya tugas menjaga harmoni dunia.

Dan “eling lan waspada”—ingat kepada Tuhan, serta bijak dalam melangkah.

Nilai-nilai itu tidak diucapkan dalam pidato panjang, tetapi terasa dalam tindakan: dalam kebersamaan, dalam kepedulian kesehatan, dalam ruang yang diberikan bagi generasi muda untuk berkarya.

Ketua panitia, Yahya Ibrahim, mungkin tidak berkata banyak, tetapi dari wajahnya terlihat kepuasan yang sulit disembunyikan. Kerja kerasnya bersama warga terbayar oleh satu hal sederhana: kebersamaan yang nyata.

Di penghujung hari, ketika keramaian mulai mereda, yang tersisa bukan hanya jejak langkah di jalanan atau suara musik yang perlahan hilang. Yang tertinggal adalah rasa—bahwa di tengah kesibukan dan perubahan zaman, masyarakat Bulu masih memiliki satu hal yang tak tergantikan: kebersamaan.

Sedekah Bumi, pada akhirnya, bukan hanya tentang menjaga tradisi. Ia adalah cara masyarakat mengingat siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka ingin melangkah—bersama.

 

djokotp

Tinggalkan Balasan