Ngawi – Selasa,21 April 2026, Peringatan Hari Kartini tahun ini di Kabupaten Ngawi tidak sekadar menjadi momentum mengenang perjuangan R.A. Kartini dalam emansipasi perempuan. Lebih dari itu, semangat Kartini dimaknai sebagai ajakan untuk menciptakan keseimbangan antara peran perempuan di ruang publik dan keluarga.
Hal tersebut disampaikan oleh Nuri Karimatunnisa, S.Si., atau yang akrab disapa Ning Nuri, anggota DPRD Ngawi dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa sekaligus Ketua Komisi I. Dalam keterangannya, ia menekankan pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama dalam membangun generasi masa depan.
“Kartini hari ini bukan hanya tentang emansipasi, tapi tentang keseimbangan. Perempuan boleh terbang setinggi mungkin, tapi jangan lupa tempatnya kembali,” ujar Ning Nuri.
Ia juga mengajak para perempuan, khususnya para ibu, untuk kembali memperkuat peran dalam keluarga melalui gerakan yang ia sebut sebagai Return to Family. Namun, ia menegaskan bahwa kekuatan keluarga tidak hanya bertumpu pada ibu, melainkan juga pada peran ayah yang sama pentingnya.
“Di tengah zaman yang serba cepat, penuh informasi simpang siur, serta perkembangan IT dan teknologi, peran ibu sangat vital sebagai madrasah pertama bagi anak. Tapi kita juga tidak boleh melupakan peran ayah sebagai pilar kepemimpinan, teladan, sekaligus penjaga arah dalam keluarga,” tambahnya.
Menurutnya, sinergi antara ayah dan ibu menjadi kunci utama dalam pembentukan karakter anak. Kehadiran orang tua yang utuh—baik secara fisik maupun emosional—akan menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang generasi.
“Keluarga adalah tempat pertama anak belajar nilai, etika, dan kehidupan. Ketika komunikasi antara ayah dan ibu terjalin baik, serta pendampingan terhadap anak dilakukan bersama, maka akan lahir generasi yang kuat, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman,” jelasnya.
Ning Nuri juga menyoroti bahwa melemahnya komunikasi dalam keluarga serta minimnya keterlibatan orang tua menjadi tantangan serius di era digital saat ini. Oleh karena itu, ia mendorong adanya kesadaran bersama untuk kembali menguatkan peran keluarga sebagai benteng utama.
Ia menilai bahwa kekuatan perempuan, khususnya para ibu, tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Namun di sisi lain, peran ayah juga harus semakin dihadirkan secara aktif dalam pengasuhan dan pendidikan anak.
Dalam konteks lokal, ia berharap semangat Kartini dapat menjadi pendorong perubahan di Ngawi ke arah yang lebih baik, baik dari sisi sosial, pendidikan, maupun ketahanan keluarga.
“Semangat Raden Ajeng Kartini hari ini juga harus dimaknai sebagai keberanian perempuan untuk hadir di ruang-ruang pengambil keputusan. Kartini masa kini adalah perempuan yang berani bersuara, mandiri, dan memastikan kebijakan benar-benar berpihak pada keadilan,” tegasnya.
Ia menambahkan, perempuan saat ini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan penentu arah pembangunan.
“Perempuan tidak menunggu ruang, tapi perempuan yang menciptakan ruang,” ujarnya.
Nama Ning Nuri sendiri kini mulai banyak diperbincangkan sebagai salah satu figur perempuan potensial di kancah politik lokal. Ia digadang-gadang menjadi sosok “Kartini masa kini” yang diharapkan dapat mengambil peran strategis dalam kontestasi kepemimpinan Ngawi pada 2029 mendatang.
Menutup pernyataannya, Ning Nuri mengajak seluruh elemen masyarakat, baik perempuan maupun laki-laki, untuk bersama-sama menjaga kekuatan keluarga.
“Selamatkan keluarga Indonesia. Karena dari keluarga yang kuat—dengan peran ayah dan ibu yang saling menguatkan—akan lahir bangsa yang hebat,” pungkasnya.
As/Red












