JAWA TIMURSumenep

Kritik Tajam Masyarakat Kepulauan: 10 Tahun Pimpinan Ahmad Fauzi, Pelayanan Dasar Tak Dirasakan

120
×

Kritik Tajam Masyarakat Kepulauan: 10 Tahun Pimpinan Ahmad Fauzi, Pelayanan Dasar Tak Dirasakan

Sebarkan artikel ini

SUMENEP, Globalindo.net – Kegelisahan mendalam dirasakan oleh masyarakat, khususnya yang berasal dari wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep. Hal ini terungkap dalam sebuah diskusi publik yang digelar untuk menyoroti kinerja pemerintahan Bupati Achmad Fauzi selama periode kepemimpinannya.

Dalam pembuka diskusi tersebut, narasumber mewakili aspirasi yang beredar di berbagai grup WhatsApp menyampaikan kekecewaan karena merasa kehilangan “sentuhan medis” atau arahan yang jelas dari seorang pemimpin.

“Awalnya di grup WhatsApp itu memilih saya untuk membuat acara ini secara faktual. Di beberapa grup rame sekali, kita merasakan kehilangan sentuhan medis dari seorang pemimpin kita. Yang seharusnya Bapak Bupati bisa men-trajectory (mengarahkan) Kabupaten Sumenep menuju sesuatu yang idealis, menjadi daerah yang nyaman untuk kita huni,” ujarnya membuka acara, Minggu (12/04/2026).

Namun menurutnya, harapan tersebut belum terwujud. Ia menilai bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, Bupati Achmad Fauzi dinilai “tidak begitu terhampir” atau kurang hadir dalam menerapkan kebijakan yang menyentuh rakyat.

“Sekali lagi, nampaknya Bapak Ahmad Fauzi dalam 10 tahun terakhir ini tidak begitu terhampir menerapkan apa yang seharusnya ada. Saya, kata Pak Subyadi, sebagai orang Kepulauan menjadi sangat resah. Karena bukan hanya tidak ada keberpihakan, tapi jangankan kebutuhan tersier, pelayanan dasar pun tidak kita nikmati di pulau-pulau,” tegasnya dengan nada emosional.

Listrik Mati, Kegelisahan Tiap Malam
Kritikan ini disampaikan bukan tanpa alasan. Pihaknya mencontohkan kondisi nyata yang dialami masyarakat kepulauan hingga saat ini. Masalah mendasar seperti kelistrikan masih menjadi momok yang menyiksa setiap hari.

“Saya mewakili bapak dan ibu saya yang sekarang tinggal di tengah masyarakat, bagaimana setiap malam diliputi kegelisahan karena masalah listrik. Itu hanya contoh kecil saja,” ungkapnya.

Oleh karena itu, melalui forum diskusi ini, pihaknya mengundang para pakar dan pengamat kebijakan publik untuk bersama-sama mencari solusi. Mereka berharap kegiatan ini bisa menjadi sebuah pressure group atau penekanan positif agar pemerintah lebih peka.

“Kegelisahan kita bersama, terutama teman-teman orang kepulauan, melalui acara ini nantinya bisa menjadi sebuah pressure group. Kita ingin melihat kenyataan bahwa kabupaten yang kaya ini, yang kita banggakan ini, setidaknya bisa memenuhi kebutuhan dasar warganya,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menyoroti kondisi di pulau-pulau terluar seperti Gili dan Sapeken yang dirasakan sangat jauh dari sentuhan kebijakan.

“Kita lihat di Pulau Gili, misalnya Pulau Sapekan. Betapa tidak hadirnya kebijakan Bupati di sana. Kalau pemerintahan hanya membimbing seperti ini, jujur saya bilang, tidak butuh Bupati yang cuma bisa jalan-jalan diiringi sirene. Itu pendapat efektif dari saya,” pungkasnya.

Di akhir sambutannya, ia juga menyampaikan salam dari tokoh masyarakat, Mas Subyadi, yang saat ini sedang berada di tanah suci dan tidak bisa hadir dalam pertemuan tersebut.

Pewarta:HR

Tinggalkan Balasan