Kangean, 21 September 2025 – Pagi yang seharusnya tenang di perairan Kangean berubah tegang. Nelayan tradisional kembali berjaga setelah empat kapal besar dan empat kapal kecil yang diduga milik PT Kangean Energy Indonesia (KEI) terlihat beraktivitas di wilayah tangkapan.
Kehadiran kapal-kapal itu menjadi pemandangan yang memicu memori kelam beberapa hari lalu, ketika 112 perahu nelayan tradisional berbondong-bondong melakukan demonstrasi di laut. Aksi besar tersebut dilakukan untuk mengusir kapal-kapal yang dicurigai tengah melakukan kegiatan seismik.
Kini, dengan munculnya kembali armada besar tersebut, nelayan merasa dilecehkan.
Tokoh masyarakat Kangean, Nurullah, menilai langkah PT KEI justru memancing amarah. Menurutnya, kehadiran kapal tanpa komunikasi yang jelas dengan masyarakat hanya akan memperburuk keadaan.
“Kalau dibiarkan, ini bisa menjadi bara yang menyulut api besar. Pemerintah jangan hanya menonton. Minimal turun sebagai penengah agar nelayan tidak merasa diabaikan,” ujarnya dengan nada keras.

Nurullah mengingatkan bahwa laut adalah ruang hidup utama nelayan. Setiap aktivitas perusahaan yang menimbulkan ancaman pada ekosistem laut otomatis dianggap mengganggu nafkah harian masyarakat. “Nelayan Kangean bukan menolak pembangunan, tapi jangan sampai mereka jadi korban,” tambahnya.
Ia khawatir, jika kondisi ini terus berlarut-larut, masyarakat akan kehilangan kesabaran. “Kita takut akan muncul tindakan-tindakan di luar kendali. Itu yang tidak kita inginkan bersama, tapi sangat mungkin terjadi kalau pemerintah tidak segera turun tangan,” tegasnya.
Masyarakat kini menunggu kehadiran negara di tengah konflik yang kian meruncing. Mereka berharap pemerintah pusat, daerah, hingga aparat hukum hadir dan tidak membiarkan nelayan sendirian menghadapi tekanan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari PT KEI. Sementara itu, nelayan tradisional masih berjaga, menatap laut dengan penuh waspada, menanti apakah pemerintah benar-benar peduli pada nasib mereka.
Jurnalis : Sigit












