Nasional

Bajo, Manggarai dan Komodo : Potret Toleransi Tanpa Basa-basi

504
×

Bajo, Manggarai dan Komodo : Potret Toleransi Tanpa Basa-basi

Sebarkan artikel ini

Globalindo.Net// Perjalanan membersamai peserta Orientasi Pelopor Penguatan Moderasi Beragama (OPPMB) Biro Kepegawaian Kemenag di Labuan Bajo menyisakan cerita menarik. Selain di antara peserta yang sebagian besar generasi “Z” dan milenial, mereka ada yang mengaku pernah hampir terpapar sewaktu kuliah dan sekarang tersadar setelah sang ibu menangis.

Ada juga yang mengaku selama ini termakan berita-berita provokatif di media sosial. “Dua hari ini saya merasa terbuka pola pikir saya”, ujar salah seorang peserta. Mereka mengapresiasi kegiatan orientasi. Sebab, kegiatan ini telah mengubah cara pandang beragama para alumni.

Mengenal Labuan Bajo
Labuan Bajo merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Labuan Bajo juga merupakan pusat pemerintahan dari Kecamatan Komodo dan sekaligus merupakan ibu kota Kabupaten Manggarai Barat. Bajo sendiri, sejatinya nama pulau tidak berpenghuni. Yang menamainya suku Bajo, dikenal sebagai petualang asal Sulawesi.

Suku Manggarai dan interaksi sosialnya
Masyarakat Manggarai sangat egaliter. Mayoritas masyarakatnya pemeluk Katolik. Mereka bisa hidup berdampingan dan saling kerja sama dalam segala hal seperti usaha bahkan ibadah dengan umat dan suku lain.

Malam itu saya bersama rombongan mencoba kuliner ikan bakar dekat pelabuhan. Hampir semua penjualnya muslim. “Saya jamin pak, makanan di tempat ini halal”, ujar seorang penjual sambil menjelaskan jenis ikan yang tersedia. Saya melihat label Halal BPJPH di setiap stand.

Begitu pula ketika meluangkan waktu menyusuri keindahan Labuan Bajo, pemandunya umat Kristiani tapi bagian perantara ‘speed boot’ perempuan muslimah asal Surabaya. Pemandu dengan rambut gimbal ini melayani dengan ramah. Dengan dibantu dua anak magang dari sekolah kejuruan tourism, berkali-kali ia minta maaf karena salah satu group rombongan ada yang tidak sesuai rute. Hal ini dipicu adanya mis komunikasi dengan pihak boot. Sikap gentlemen ini kami apresiasi.

Komodo: Bukan Sekadar Pulau
Begitu sampai di pulau Komodo, kami disambut seorang pemandu. Rombongan kami diajak keliling. Dengan ramah dia juga melayani foto dengan Komodo. Para pemandu kebanyakan warga lokal.

Komodo sejatinya bukan nama pulau ansih. Selama ini dikenal karena binatang purbanya. Padahal, sejatinya pulau ini juga dihuni penduduk. Mereka tidak lain adalah Suku Komodo. Tidak kurang dari 2000 jiwa penduduk Suku Komodo, selisih sedikit dengan binatang Komodonya yang berjumlah 1500-an ekor.

Kami bersama rombongan mewawancarai Pak Bahar, pengrajin ukiran komodo. Beliau bernada ‘curhat’, merasa heran, kenapa setiap tamu yang datang selalu bertanya, apakah ada penduduk lokalnya. Pak Bahar mengaku yang viral selama ini hanya binatangnya, bukan manusianya.

Yang tidak kalah menarik, Komodo di pulau ini hidup berdampingan dengan penduduk lokal. Konon kabarnya, ada mitos bahwa dulunya binatang komodo itu saudara kembar suku komodo. Makanya, binatang komodo tidak pernah menyerang penduduk lokal. Tidak jarang komodo kecil naik dan masuk rumah penduduk. Jika makan binatang piaraan seperti kambing, oleh warga langsung diberikan. Seperti menyuguhkan makanan kepada kerabatnya yang sedang bertamu.

Pak Bahar melanjutkan ceritanya bahwa penduduk suku Komodo semuanya muslim dan saat ini sedang merenovasi sebuah masjid. Memang tampak sekali jika penduduknya muslim. Hal itu terlihat para pedagang oleh-oleh memakai songkok haji berwarna hitam. Penjual makanan yang kebanyakan ibu-ibu juga memakai jilbab. Semula saya mengira mereka adalah pendatang asal Bugis, ternyata warga asli suku Komodo.

Jurnalis :Sholehuddin

Editor:Purwati