JAWA TIMURMaduraSumenep

Sumpah Pemuda di Tengah Antrean Solar yang Mengular di Sumenep

19
×

Sumpah Pemuda di Tengah Antrean Solar yang Mengular di Sumenep

Sebarkan artikel ini
Oleh Ludi Anto Jurnalis Muda

Sumenep, Globalindo.net – Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum memperkuat persatuan dan semangat kebangsaan. Namun, di Kabupaten Sumenep, semangat tersebut berhadapan dengan persoalan nyata: antrean panjang dan mengular kendaraan untuk mendapatkan BBM jenis Solar di hampir seluruh SPBU.

Kondisi ini bukan sekadar persoalan antrean. Di baliknya, terdapat waktu produktif yang terbuang, aktivitas ekonomi yang berpotensi terganggu, serta keresahan masyarakat yang membutuhkan kepastian pasokan.

Bagi nelayan, pelaku transportasi, petani, dan pelaku usaha, Solar merupakan penopang aktivitas ekonomi. Terlebih bagi masyarakat kepulauan Sumenep, ketersediaan bahan bakar berkaitan erat dengan kelancaran mobilitas dan keberlangsungan penghidupan.

Karena itu, antrean panjang tersebut harus menjadi alarm bagi pemerintah dan pihak terkait. Penyebabnya perlu segera dipastikan, apakah berkaitan dengan pasokan, distribusi, peningkatan permintaan, atau faktor lainnya. Antrean panjang memang belum cukup untuk menyimpulkan penyebab, tetapi kondisi yang meluas menuntut evaluasi serius.

Nasionalisme Harus Menjawab Persoalan Rakyat

Sumpah Pemuda 1928 mengajarkan bahwa persatuan bukan sekadar slogan, melainkan komitmen memperjuangkan kepentingan bersama.

Apa arti nasionalisme jika masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar demi melanjutkan aktivitas ekonominya?

Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan mengingatkan bahwa pelayanan publik harus menghadirkan solusi nyata.

Pemerintah Kabupaten Sumenep perlu berkoordinasi dengan Pertamina, pengelola SPBU, dan instansi berwenang untuk mengevaluasi pasokan serta distribusi Solar. Informasi mengenai ketersediaan BBM juga perlu disampaikan secara transparan.

Jika ditemukan penyimpangan dalam penyaluran BBM bersubsidi, pengawasan dan penindakan harus dilakukan sesuai ketentuan. Jika persoalannya berkaitan dengan pasokan atau tingginya kebutuhan, penyelesaiannya harus berbasis data dan kondisi lapangan.

Pemuda Harus Ikut Mengawal

Peringatan Sumpah Pemuda juga menjadi momentum bagi mahasiswa dan organisasi kepemudaan untuk mengawal persoalan ini melalui pengumpulan data, penyampaian aspirasi, dan pengawasan sosial yang bertanggung jawab.

Kritik harus berpijak pada fakta dan diarahkan untuk mendorong perbaikan. Pemerintah pun perlu membuka ruang dialog serta memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Rakyat Membutuhkan Solusi

Antrean Solar yang mengular di hampir seluruh SPBU Sumenep bukan sekadar persoalan bahan bakar, melainkan menyangkut produktivitas, penghidupan masyarakat, dan kepercayaan publik.

Pemerintah dan pihak terkait perlu segera mengurai penyebab, memperkuat koordinasi, serta memastikan distribusi BBM berjalan adil sesuai ketentuan.

Nasionalisme tidak cukup dirayakan melalui upacara dan slogan. Nasionalisme harus dibuktikan melalui kehadiran negara ketika rakyat menghadapi kesulitan.

Di Sumenep, semangat Sumpah Pemuda diuji melalui keseriusan menyelesaikan persoalan antrean Solar agar nelayan dapat melaut, roda ekonomi tetap bergerak, dan masyarakat kepulauan tidak merasa ditinggalkan.

Sebab, persatuan akan lebih bermakna ketika rakyat merasakan bahwa kepentingan mereka benar-benar diperhatikan.

Tinggalkan Balasan