JAWA TIMURSurabaya

Aliansi Masyarakat Indonesia (AMI): Sumpah Pemuda di Tengah Pusaran Utang Negara dan Krisis Moral Gen Z

20
×

Aliansi Masyarakat Indonesia (AMI): Sumpah Pemuda di Tengah Pusaran Utang Negara dan Krisis Moral Gen Z

Sebarkan artikel ini

SURABAYA – Peringatan Hari Sumpah Pemuda dalam seremoni tahunan yang kehilangan esensi kesakralan. Di tengah kepungan gaya hidup modern dan beban utang negara yang menumpuk, Aliansi Masyarakat Indonesia (AMI) menyoroti pudarnya memori kolektif generasi muda terhadap tonggak persatuan bangsa.

Aktivis ’98 sekaligus kontributor publik, Eko Gagak, menyatakan bahwa sebagian besar generasi muda atau Gen Z saat ini terjebak dalam pusaran hedonisme, kelenturan nasionalisme, serta ketidakpastian masa depan. Fenomena ini dipandang sebagai bentuk pengkhianatan terselubung terhadap perjuangan para pendiri bangsa.

“Republik Indonesia terus mendengungkan narasi megah menuju Indonesia Emas. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan potret kelam yang kontradiktif. Kita disuguhi angka pengangguran muda yang menjulang tinggi, maraknya jeratan narkoba, dan krisis moral akut,” ujar Eko Gagak dalam keterangan tertulisnya, Rabu (28/10/2026).

Menurut Eko Gagak, ruang gerak pemuda dihimpit oleh beban ekonomi sistemik dan minimnya keteladanan dari para elit politik. AMI menegaskan ironi terbesar datang dari struktur kekuasaan tertinggi negara, di mana maraknya korupsi pejabat publik secara langsung meruntuhkan kompas moral generasi masa depan.

Di saat yang sama, masyarakat lapisan bawah dipaksa menyaksikan negara terus menimbun utang atas nama pembangunan fisik. Langkah tersebut dinilai AMI sebagai kebijakan kosmetik yang tidak berdampak langsung pada kesejahteraan ekonomi rakyat kecil.

Merespons krisis multidimensi ini, AMI menuntut empat langkah konkret dan radikal dari pemerintah serta seluruh elemen bangsa untuk memotong rantai apatisme generasi muda:
• Mengubah metode sejarah menjadi internalisasi nilai-nilai perjuangan yang adaptif dan relevan dengan krisis zaman.
• Mendesak pemerintah serius membuka ruang lapangan kerja yang inklusif, bukan membiarkan pemuda dalam status pengangguran.
• Mengalihkan budaya instan dan flexing kekayaan di media sosial menuju aksi kemasyarakatan yang nyata.
• Memberikan efek jera maksimal bagi pejabat korup guna mengembalikan kepercayaan pemuda terhadap institusi negara.

Aliansi Masyarakat Indonesia (AMI) memperingatkan bahwa nasib generasi muda saat ini berada di persimpangan jalan krusial. Jika krisis moral, ekonomi, dan struktural ini terus dibiarkan, visi “Indonesia Emas” terancam berubah menjadi “Indonesia Bubar” sebuah negara yang rapuh karena generasinya kehilangan jati diri, terlilit utang, dan dipimpin oleh mentalitas koruptif.

“Sumpah Pemuda bukan sekadar lembaran sejarah era kolonial. Ini adalah alarm keras bagi kita semua. Sudah saatnya generasi muda bangkit dan merebut kembali ruang nasionalisme yang hilang,” pungkas Eko Gagak. (Red)

Tinggalkan Balasan