TRENGGALEK, Globalindo.net – Rangkaian peringatan Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek kembali menghadirkan tradisi budaya yang sarat makna. Pada Sabtu (29/8/2026), prosesi Bedhol Pusaka Kampak 2026 digelar menuju Desa Karangrejo, Kecamatan Kampak, setelah sebelumnya dilaksanakan prosesi jamasan pusaka di Pendapa Manggala Praja Nugraha.

Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin (Mas Ipin), Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek Doding Rahmadi, jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh adat, komunitas budaya, pelaku seni, serta masyarakat Kecamatan Kampak.
Bedhol Pusaka tidak sekadar dimaknai sebagai prosesi membawa pusaka dari satu tempat ke tempat lain. Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya, menghormati leluhur, sekaligus menghubungkan generasi masa kini dengan perjalanan sejarah Kabupaten Trenggalek.
Kampak dipilih bukan tanpa alasan. Wilayah ini memiliki jejak sejarah yang kuat, salah satunya ditandai dengan keberadaan Prasasti Kampak yang bertarikh 929 Masehi. Jejak tersebut menjadi pengingat bahwa Kampak memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah dan kebudayaan di wilayah Trenggalek.
Semangat pelestarian budaya juga tampak dari keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Banteng Wareng, PAMU, komunitas budaya, pelaku seni, tokoh masyarakat, sedulur budaya, serta Kadang DEKAT turut hadir untuk nyengkuyung dan mangayubagyo pelaksanaan Bedhol Pusaka Kampak 2026.

Tradisi tersebut sekaligus menjadi ruang kebersamaan masyarakat untuk kembali melihat pentingnya menjaga akar budaya di tengah perkembangan zaman.
Budaya, pada akhirnya, tidak akan hidup hanya karena tercatat dalam buku sejarah. Budaya akan terus tumbuh ketika masyarakat hadir, menjaga, merawat, dan merasa memiliki warisan yang ditinggalkan para leluhur.
Melalui Bedhol Pusaka Kampak 2026, diharapkan generasi mendatang tidak hanya mengenal leluhur melalui cerita, tetapi juga memahami nilai sejarah dan budaya yang diwariskan.
“Mari nguri-uri budaya, ngleluri sejarah, ngurmati leluhur, lan ngraketake seduluran.”
Menjaga budaya bukan sekadar mempertahankan masa lalu, tetapi menjadi salah satu cara memastikan masa depan Trenggalek tidak kehilangan akar sejarah dan jati dirinya.
Pewarta: Sugeng / DEKAT












