SUMENEP, Globalindo.net — Penyaluran bantuan sosial (bansos) di Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, kembali menjadi sorotan. Hasil penelusuran aktivis muda asal Kecamatan Manding, Eka Ainun Fajria, menemukan adanya sejumlah kejanggalan dalam data penerima bantuan sosial.
Di lapangan, masih ditemukan warga yang kondisi ekonominya cukup memprihatinkan, tempat tinggal sederhana dan penghasilan yang tidak menentu, namun justru tidak masuk dalam daftar penerima bansos.
Di sisi lain, terdapat pula warga yang secara kondisi ekonomi dinilai sudah lebih mampu, tetapi namanya masih tercantum sebagai penerima bantuan.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan adanya ketimpangan antara data kesejahteraan dengan keadaan warga yang sebenarnya. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah adanya warga yang secara kehidupan sehari-hari masih kesulitan, namun dalam pencatatan justru masuk dalam kategori desil 6 hingga 10.
Padahal, bantuan sosial seharusnya lebih diprioritaskan kepada masyarakat yang berada pada kelompok ekonomi paling rendah dan benar-benar membutuhkan.
Artinya, ketika warga yang hidup serba kekurangan justru berada di kategori yang dianggap tidak masuk sasaran bantuan, sementara warga yang dinilai lebih mampu masih menerima bansos, persoalan ketepatan data menjadi hal yang patut dipertanyakan.
Temuan tersebut kemudian menimbulkan keluhan di tengah masyarakat. Warga yang merasa membutuhkan bantuan berharap adanya pendataan kembali agar kondisi mereka bisa benar-benar tercatat sesuai keadaan di lapangan.
Eka berharap pihak terkait tidak hanya mengandalkan data lama, tetapi melakukan verifikasi dan pemutakhiran data secara menyeluruh. Dengan begitu, bantuan sosial yang diberikan pemerintah bisa lebih tepat sasaran dan benar-benar sampai kepada keluarga yang paling membutuhkan.
Pewarta: HR












