BeritaJAWA TIMURSumenep

Ironi Warga Bluto, Punya Wabub & Wakil Rakyat, Namun Jalan Utama “Salbut”

42
×

Ironi Warga Bluto, Punya Wabub & Wakil Rakyat, Namun Jalan Utama “Salbut”

Sebarkan artikel ini

SUMENEP, Globalindo.net – Kecamatan Bluto memang bukan pusat dunia, tapi pernah jadi pusat harapan dan doa. Dari tanah ini, seorang putra daerah naik menjadi Wakil Bupati, jabatan yang (dalam bayangan warga) minimal cukup untuk memastikan jalan utama tidak berubah jadi wahana uji nyali.

Tapi justru yang terjadi sebaliknya jalan utama warga Bluto hari ini seperti ujian kesabaran berjamaah. Jalan utama setidaknya dari Karangcempaka hingga pertigaan Bluto, aspalnya banyak mengelupas, lubang menganga, tambal sulam berserakan seperti niat baik yang datang setengah hati. Jalannya “salbut” kata orang-orang. Satu lubang, satu guncangan. Kadang dua lubang, bonus refleksi hidup.

Gongnya adalah dari Desa Karangcempaka – Bluto sendiri. Jalan salbut semrawut ditindih dengan tambal sulam berlapis, tebal dan padat. Mungkin harapannya biar setiap pengendara tidak hanya pelankan kemudi, Namun yang terjadi justru kendaraan terasa seperti sedang dites ketahanan suspensi kata ludi sebagai Aktivis muda Bluto.

“Shokbreker Engak se Potongah setiap lebet muak sabu ( Shokbeker Seperti Mau Patah Setiap Lewat Muat Sawo )” Imbuh Ludi

Dimana Kecamatan Bluto bukan hanya menyumbang satu Wakil Bupati. Daerah ini juga dikenal produktif mengantar banyak politisi duduk di kursi DPRD Sumenep nama-nama itu lahir dari dapil yang sama, menyerap suara dari jalan yang sama, dan ironisnya melewati kerusakan yang sama.

Masyarakat menilai para wakil rakyat dan pejabat daerah seolah menutup mata terhadap persoalan tersebut. Sebab, setiap hari terdapat anggota DPRD maupun Wakil Bupati Sumenep yang melintas di jalur itu.

Apakah para wakil rakyat ini tidak cukup kuat untuk mendorong pembangunan di dapilnya sendiri? Atau jangan-jangan, dorongan itu memang tidak pernah benar-benar ada?

Atau, apakah mereka memang tidak terganggu ketika melewati jalan “salbut” ini? Atau mungkin sudah terlalu terbiasa, hingga guncangan itu tidak lagi terasa sebagai masalah, tapi sekadar rutinitas?

Akhirnya, Kecamatan Bluto menjadi semacam cermin kecil bahwa kedekatan geografis dengan kekuasaan tidak selalu berbanding lurus dengan perhatian. Bahwa punya “orang dalam” tidak otomatis berarti urusan jadi mudah. Dan dalam banyak kasus, jabatan tanpa daya tawar hanyalah simbol rapi di struktur, namun kosong di fungsi.

Pelan-pelan Masyarakat membutuhkan kesadaran bahwa yang mereka butuhkan bukan sekadar wakil di kursi kekuasaan, melainkan kekuasaan yang benar-benar bisa mewakili. Sebab kalau tidak, Kecamatan Bluto akan terus punya satu hal yang pasti jalan rusak yang setia, dan ironi yang tak pernah absen.

PEWARTA : WWN

Tinggalkan Balasan