Sumatera UtaraBerita

Padam Listrik Massal Se-Sumatera Berujung Bencana di Madina: Ratusan Kilo Ikan Mati, Peternak Terbebani Rugi Puluhan Hingga Ratusan Juta

15
×

Padam Listrik Massal Se-Sumatera Berujung Bencana di Madina: Ratusan Kilo Ikan Mati, Peternak Terbebani Rugi Puluhan Hingga Ratusan Juta

Sebarkan artikel ini

SUMUT, Globalindo.Net – Gangguan pasokan listrik besar-besaran atau black out yang melanda hampir seluruh wilayah Pulau Sumatera pada Jumat malam lalu, ternyata meninggalkan dampak pahit dan kerugian nyata bagi pelaku usaha, khususnya di sektor perikanan. Pemadaman yang meluas mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi hingga Lampung ini tidak hanya melumpuhkan aktivitas umum warga, tetapi juga menghancurkan aset usaha yang telah dibangun dengan susah payah selama berbulan-bulan. Senin 25/05/2026.

Salah satu yang paling terpukul adalah usaha budidaya ikan Kenzi Berkah Semesta Farm Madina, yang beralamat di Jalan Stadion, Desa Sarak Matua, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal. Akibat aliran listrik yang mati berulang kali selama beberapa hari terakhir, operasional budidaya yang sangat bergantung pada energi listrik mengalami kegagalan total.

Sebagaimana diketahui, dalam sistem budidaya ikan menggunakan kolam terpal, mesin penghembus udara atau aerator merupakan perangkat nyawa. Alat ini berfungsi memasok oksigen dan menjaga sirkulasi air agar tetap layak huni bagi ikan. Ketika listrik mati, seluruh sistem aerator di 12 unit kolam pemeliharaan itu langsung berhenti bekerja sepenuhnya. Tanpa suplai oksigen dan perputaran air, kondisi lingkungan di dalam kolam dengan cepat memburuk, membuat ikan mengalami stres berat hingga akhirnya mati secara serentak.

“Akibat dampak padamnya listrik, hampir semua ikan di dalam kolam kami mati,” ungkap Pak Lek, salah seorang karyawan Kenzi Berkah Semesta Farm Madina kepada awak Media.

Yang membuat kerugian makin terasa berat, lanjutnya, bukan saja bibit ikan berukuran kecil yang mati, melainkan sebagian besar adalah ikan berukuran konsumsi yang sudah siap panen dan tinggal menunggu waktu untuk dipasarkan.

“Ikan yang mati sangat banyak. Ada yang sudah layak dipasarkan, ada juga yang tinggal menunggu waktu panen,” Pungkasnya

Secara perhitungan kasar, kerugian materiil yang harus ditanggung pemilik usaha ditaksir mencapai angka Rp80 Juta. Nilai ini mencakup harga jual ikan yang gagal didapatkan, biaya pakan yang sudah dikeluarkan selama berbulan-bulan, serta biaya perawatan dan tenaga kerja yang sudah diinvestasikan sejak awal pemeliharaan.

Kejadian ini menjadi bukti nyata betapa krusialnya kestabilan pasokan listrik bagi kelangsungan ekonomi masyarakat, terutama bagi usaha skala kecil dan menengah. Bagi peternak ikan masa kini, listrik bukan sekadar fasilitas pendukung, melainkan jantung dari keseluruhan sistem produksi. Sekali aliran terputus, usaha yang dibangun berbulan-bulan bisa runtuh hanya dalam hitungan jam.

Kini, peristiwa padam listrik yang melanda lintas provinsi ini memunculkan kekhawatiran mendalam bagi pelaku usaha lain yang operasionalnya berjalan selama 24 jam dan bergantung penuh pada energi listrik. Di balik gelapnya malam dan padamnya lampu jalan saat kejadian, ternyata ada nasib usaha rakyat yang ikut runtuh, harapan hasil panen yang berubah menjadi tumpukan bangkai ikan, dan kerugian besar yang sampai saat ini harus ditanggung sendiri oleh para peternak.

Redaksi Globalindo.Net

Tinggalkan Balasan