Sumenep Globalindo– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan di Kabupaten Sumenep. Kali ini, keluhan muncul dari lingkungan TK di Desa Giring, Kecamatan Manding, menyusul distribusi makanan yang dinilai tidak tepat waktu serta komposisi menu yang dianggap kurang memadai untuk kebutuhan gizi anak usia dini.
Sejumlah guru dan orang tua murid mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap pelaksanaan program tersebut.
Mereka menyebut makanan datang terlambat sehingga mengganggu jadwal makan anak-anak di sekolah.
“Anak-anak usia TK butuh pola makan teratur. Kalau distribusinya terlambat, tentu berdampak pada konsentrasi dan kenyamanan mereka saat belajar,” ujar salah satu guru yang enggan disebutkan namanya.
Selain persoalan distribusi, komposisi menu juga menjadi perhatian. Menu yang dibagikan terdiri dari dua susu,satu buah naga, dua jeruk, tempe, dan kue. telur satu Menu tersebut bahkan diperuntukkan untuk tiga hari.
Menurut para orang tua, porsi dan variasi makanan tersebut belum mencerminkan standar gizi seimbang bagi anak usia 4–6 tahun yang masih dalam masa pertumbuhan aktif.
Mereka menilai belum terlihat adanya sumber karbohidrat utama maupun protein hewani yang cukup untuk menunjang kebutuhan energi harian anak.
Di sisi lain, isu pendanaan turut mencuat. Program MBG disebut-sebut mengambil porsi besar dari anggaran pendidikan nasional.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik terkait efektivitas dan akuntabilitas penggunaan anggaran, terutama jika di lapangan masih ditemukan kendala teknis dan kualitas menu.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, sejumlah pihak mendorong pemerintah agar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program. Perbaikan dinilai perlu dilakukan, mulai dari sistem distribusi, standar komposisi menu berbasis rekomendasi ahli gizi, hingga transparansi pengelolaan anggaran.
Pengamat pendidikan di Sumenep juga menilai pelibatan masyarakat, akademisi, dan tenaga ahli dalam proses monitoring dan evaluasi menjadi langkah penting agar program berjalan sesuai tujuan awal, yakni meningkatkan kualitas gizi anak tanpa mengabaikan aspek tata kelola.
Program MBG sejatinya diharapkan menjadi solusi dalam mendukung tumbuh kembang generasi muda. Namun, tanpa pengawasan dan evaluasi yang serius, tujuan mulia tersebut berisiko tidak tercapai secara optimal di lapangan.”
Pewarta: HR












