BeritaJAWA TIMURPolitik

Perjalanan Karir Politik Bapak Said Abdullah Hingga Jatuh Cinta Ke PDI Perjuangan

250
×

Perjalanan Karir Politik Bapak Said Abdullah Hingga Jatuh Cinta Ke PDI Perjuangan

Sebarkan artikel ini

Sumenep, Globalindo.net – Perjalanan karier politik Said Abdullah tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari lingkungan keluarga yang kental dengan semangat Soekarnois, lalu ditempa oleh pengalaman organisasi dan dinamika politik nasional sejak akhir 1970-an.

Benih Ideologi Sejak Remaja
Said mengisahkan, minat politiknya tumbuh dari sang ayah, seorang pegawai PT Garam yang dikenal sebagai “Eto Soekarnois”. Dalam setiap perjalanan tugasnya dari pulau ke pulau, sang ayah selalu membawa buku-buku bacaan.

Perkenalan awal Said dengan pemikiran kebangsaan dimulai sekitar 1979–1980. Buku pertama yang ia baca adalah Sarinah karya Soekarno saat masih duduk di bangku akhir SMP. Meski sempat dimarahi karena membaca buku tersebut, rasa penasaran justru semakin membesar.

Memasuki SMA, ia melanjutkan dengan membaca Di Bawah Bendera Revolusi jilid I dan II, juga karya-karya Tan Malaka. Dari sanalah ideologi nasionalisme dan kerakyatan semakin menguat, hingga akhirnya ia mengaku “jatuh cinta” pada PDI—yang saat itu masih bernama PDI, belum menjadi PDI Perjuangan.

Hijrah ke Jakarta Tahun 1988
Tahun 1988 menjadi titik penting. Said memutuskan hijrah ke Jakarta. Ia terpilih di Wismakopo dan menjadi salah satu anggota MPP dari Jawa Timur. Kala itu, ia aktif berinteraksi dengan sejumlah tokoh partai dan rutin berhubungan dengan DPP, baik mingguan maupun bulanan.

“Awalnya memang politik yang menggerakkan. Karena kalau di daerah kan sudah sumpek banget. Tidak bisa berbuat apa-apa. Kondisinya memang seperti itu,” kenangnya.

Jakarta memberinya ruang gerak yang lebih luas. Ia tidak hanya berorganisasi, tetapi juga memperdalam jejaring dan konsolidasi politik tingkat nasional.
Konsistensi pada Garis Perjuangan
Kecintaannya pada PDI terus berlanjut ketika partai itu bertransformasi menjadi Partai Demokrasi Indonesia dan kemudian Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pasca reformasi.

Bagi Said, partai bukan sekadar kendaraan politik, melainkan rumah ideologi. Spirit Soekarnoisme yang ia serap sejak remaja menjadi fondasi konsistensinya dalam berpolitik.

Dari perjalanan membaca buku di usia belia, hijrah ke Jakarta pada 1988, hingga menapaki karier politik nasional, Said Abdullah membuktikan bahwa idealisme yang tumbuh sejak muda bisa menjadi kompas dalam perjalanan panjang pengabdian politik.”

Pewarta:HR