ArtikelBekasiOpini

Banjir Tahunan Kabupaten Bekasi: Lingkaran Krisis Lingkungan yang Tak Pernah Diputus

145
×

Banjir Tahunan Kabupaten Bekasi: Lingkaran Krisis Lingkungan yang Tak Pernah Diputus

Sebarkan artikel ini

Sorotan Redaksi

OPINI, Globalindo.Net – Di Kabupaten Bekasi, banjir bukan lagi bencana. Ia telah naik pangkat menjadi agenda rutin, semacam upacara tahunan yang selalu hadir tepat waktu, jauh lebih disiplin daripada program penanganannya sendiri. Setiap hujan deras turun, air pun tahu ke mana harus pergi: ke rumah warga, ke jalanan, ke sawah, ke ingatan kolektif yang sudah lelah berharap.

Lingkungan di wilayah ini perlahan diperas seperti spons tua. Lahan hijau berubah menjadi beton, sungai menyempit seperti napas yang dicekik, dan drainase bekerja sekadar sebagai formalitas. Namun ketika air meluap, alam selalu dituding sebagai pelaku utama. Hujan dijadikan tersangka, sementara tangan-tangan yang merusak ruang hidup dibiarkan tetap bersih dan berjas.

Pergantian pejabat di Kabupaten Bekasi menyerupai pergantian pemain dalam sandiwara yang naskahnya tak pernah diubah. Nama boleh berganti, wajah boleh baru, tapi dialognya tetap sama: janji normalisasi, rencana besar, dan foto lapangan dengan sepatu bot. Setelah kamera dimatikan, air tetap mencari jalan yang sama, dan warga kembali menghitung kerugian yang tak pernah diganti tuntas.

Banjir seolah menjadi cermin yang sengaja dihindari. Di dalamnya terpantul kegagalan tata ruang, keberanian yang ciut saat berhadapan dengan kepentingan industri, serta kebijakan lingkungan yang kalah cepat dari izin pembangunan. Sungai dipersempit, daerah resapan dikorbankan, lalu pemerintah bertanya dengan polos: “Mengapa banjir terus terjadi?”

Yang paling setia dalam kisah ini bukanlah solusi, melainkan penderitaan warga. Mereka menjadi penonton sekaligus korban, dipaksa menerima bahwa rumahnya akan kembali terendam tahun depan. Bantuan datang seperti tamu singgah sebentar, lalu pamit tanpa pernah menetap dalam bentuk kebijakan jangka panjang.

Selama banjir terus diperlakukan sebagai takdir dan bukan akibat, Kabupaten Bekasi akan terus berenang di tempat. Air mungkin akan surut, tapi krisisnya tidak. Dan selama kepemimpinan hanya berani menyalahkan langit, banjir akan terus turun ke bumi membawa pesan yang selalu sama, namun tak pernah sungguh-sungguh dibaca.

 

Red Bekasi Raya