BekasiBerita

Pemuda Jatireja “Ketuk Meja” Jababeka 9: Pembangunan Jangan Wariskan Banjir dan Debu

279
×

Pemuda Jatireja “Ketuk Meja” Jababeka 9: Pembangunan Jangan Wariskan Banjir dan Debu

Sebarkan artikel ini

KAB BEKASI, Globalindo.Net – Puluhan pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Desa Jatireja dan Karang Taruna Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, secara tegas menyuarakan keresahan warga dalam audiensi bersama pengembang kawasan industri Jababeka 9, Kamis (22/01/2026). Forum tersebut menjadi panggung bagi pemuda untuk menyampaikan pesan jelas: pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan dan keselamatan warga.

Audiensi digelar di tengah meningkatnya aktivitas konstruksi kawasan industri yang mulai menimbulkan dampak nyata bagi pemukiman sekitar. Polusi debu, kebisingan alat berat, serta kekhawatiran serius terhadap sistem drainase yang berpotensi memicu banjir menjadi sorotan utama.

Ketua Karang Taruna Desa Jatireja, Jodi Wibawa, S.M., menyampaikan sikap lugas tanpa basa-basi. Menurutnya, pembangunan yang mengabaikan aspek lingkungan hanya akan melahirkan ketimpangan baru.

“Kami tidak menolak investasi. Tapi kami juga tidak akan diam jika pembangunan meninggalkan masalah bagi warga. Jangan sampai industri tumbuh megah, sementara desa kami kebanjiran dan warganya menghirup debu setiap hari,” tegas Jodi.

Karang Taruna menilai, hingga kini masyarakat belum mendapatkan informasi yang memadai terkait dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Minimnya transparansi tersebut dinilai berbahaya, terlebih pembangunan dilakukan di wilayah yang bersinggungan langsung dengan permukiman warga Desa Jatireja.

Dalam forum itu, pemuda mendesak pihak Jababeka untuk bertanggung jawab penuh atas mitigasi dampak lingkungan, khususnya dengan membangun sistem drainase yang terintegrasi dari kawasan pemukiman dan perumahan warga menuju Kali Cipegadungan sebelum puncak musim hujan tiba.

“Kami tidak ingin solusi setengah-setengah. Pencegahan banjir harus dilakukan sekarang, bukan setelah rumah warga terendam,” ujar salah satu perwakilan Karang Taruna Kecamatan Cikarang Timur.

Menanggapi tekanan tersebut, pihak pengelola kawasan Jababeka 9 yang diwakili Mayjen TNI (Purn) Sumardi menyatakan kesiapan untuk meninjau ulang sistem pembuangan air serta membuka ruang dialog lanjutan dengan masyarakat.

Namun demikian, Karang Taruna menegaskan bahwa komitmen lisan tidak cukup. Mereka berkomitmen mengawal hasil audiensi agar setiap janji diterjemahkan menjadi tindakan nyata di lapangan.

Langkah kolektif pemuda Jatireja ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat tidak ingin menjadi korban pasif pembangunan. Di tengah gencarnya industrialisasi tahun 2026, suara pemuda tampil sebagai benteng terakhir yang mengingatkan: pembangunan yang abai lingkungan bukan kemajuan, melainkan bom waktu ekologis.

 

(JM)