BANDUNG, Globalindo.Net – Kota Bandung 18 Agustus 2025. Siang itu udara panas menyengat. Jalanan kota terlihat padat tapi tidak menyurutkan orang beraktivitas.
Seperti jadi penanda bahwa disetiap deru kesibukan selalu saja menyisakan orang yang kurang beruntung, mengucil dibelakang layar dibalik pesta pora sebagian warga peringati kemerdekaan.
Kerasnya kehidupan layaknya perlombaan 17 agustus, berebut mengundi nasib agar keberuntungan bisa berpihak, bersusah payah mengalahkan lawan. Setiap kemenangan akan dirayakan dan yang kalah harus siap dengan cemoohan.
Saya gontai berjalan menyusuri trotoar kota. Niat, ingin menemui seseorang warga paledang, lengkong – Bandung.
Tak sulit, hingga akhirnya kami bertemu, sekaligus menghilangkan keraguan selama ini. Seni bertahan hidup.
Kehidupan keras. Itu kesan pertama, selanjutnya saya memahami bahwa tidak ada pemenang sejati dalam kehidupan, tapi bertahan hidup ditengan himpitan kesulitan adalah juaranya.
Lalu saya teringat istilah gaul bahwa setiap orang membawa persoalannya sendiri-sendiri.
Adalah Andi 46, pria jelang usia paruh baya. Duduk tenang. Tak banyak bicara namun tatapannya berat.
Tapi seketika dia berucap. Bak halilintar di siang bolong, menggelegar.
Ucapan pendeknya sontak membuat orang disekelingnya terdiam. Hening membisu. Tak berani menyela. Termasuk saya.
Ya, Andi ada apa? Begitu saya bertanya lirih.
Andi menuturkan beban menghidupi keluarga. Tapi yang lebih mengiris hati keinginnnya menjual ginjal demi pengobatan ayahnya yang sakit parah.
Menurutnya jika pun dirinya hanya memiliki satu ginjal, dia yakin akan tetap hidup. Meskipun tahu resiko yang akan menimpanya kelak.
Cerita Andi yang berencana menjual ginjal miliknya memang bukan cerita yang mengenakkan telinga. Tapi bagi saya cerita itu sangat mengusik batin dan epic terdengar. Karena saya percaya di setiap cerita pasti ada latar belakang.
Meskipun factor ekonomi selalu yang pertama jadi alasan, tapi saya tidak berhenti disitu. Pasti ada factor lainnya kenapa seseorang rela mengamputasi organ miliknya sebagai bentuk pengorbanan untuk orang-orang tercinta.
Kerelaan ini sudah menembus batas kesadaran, hingga meyakini bahwa diperlukan sebuah pengorbanan yang tidak biasa.
Andi bagi saya adalah pelajaran berharga bahwa keluarga dan orang-orang tercinta musti selamat, meneruskan kehidupan.
Dia sudah mengambil resiko dan pilihan untuk menjual ginjal demi menghidupi keluarga dan pengobatan ayahnya adalah pilihan final.
Galih
Red












