Sumenep, Meski terpencil dan harus menempuh perjalanan laut selama 1,5 jam dari pusat Kecamatan Kangayan, Desa Saobi kembali membuktikan bahwa semangat kemerdekaan tak mengenal batas geografis. Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-80, desa kecil yang berada di pelupuk timur Kabupaten Sumenep ini justru tampil menyala dengan semangat yang tak kalah membara dari pusat kota.
Adalah Kepala Desa Saobi, sosok sederhana yang akrab dipanggil Hosai, yang menjadi penggerak utama denyut nasionalisme di desa ini. Ia meyakini bahwa meskipun Desa Saobi jauh dari hiruk-pikuk perayaan kota, namun nilai-nilai perjuangan tetap hidup dan tumbuh dalam hati setiap warganya.
“Kami di Saobi tidak sekadar memperingati kemerdekaan, tapi menghidupinya. Ini bentuk penghargaan kami terhadap para pahlawan. Kami mengisi kemerdekaan dengan semangat kebersamaan dan kegiatan yang membangun jiwa gotong royong,” ujar Hosai dengan nada mantap.

Bendera merah putih berkibar gagah di setiap rumah warga.
Sebagai wujud nyata pengisian kemerdekaan, Desa Saobi menggelar berbagai lomba rakyat, dari tingkat anak-anak hingga dewasa. Tak hanya sebagai hiburan, lomba-lomba ini menjadi momentum menyatukan warga, mempererat silaturahmi, dan menanamkan semangat perjuangan sejak dini.
Bendera merah putih berkibar gagah di setiap rumah warga. Gapura dan hiasan merah putih menghiasi setiap sudut desa. Lagu-lagu kemerdekaan menggema hingga ke bibir pantai. Semuanya menjadi pertanda, bahwa di ujung timur kepulauan ini, HUT RI ke-80 dirayakan dengan penuh sukacita dan kesadaran nasional yang tinggi.
“Kami boleh tinggal di pelosok, tapi semangat kami tak pernah terbelakang. Keterbatasan bukan alasan untuk tidak cinta tanah air,” pungkas Hosai, menutup perbincangan.
Desa Saobi telah memberi teladan, bahwa semangat kemerdekaan bukan sekadar simbol, tapi harus dirawat lewat tindakan. Bahwa meskipun jauh dari pusat pemerintahan, semangat juang tetap menyala dari setiap denyut nadi masyarakat pesisir.
Pewarta : Hariyanto/Hr










