Kepulauan Kangean, bagian timur Kabupaten Sumenep yang kaya potensi dan strategis dalam jalur pelayaran nasional, hingga hari ini masih belum memiliki bandara aktif yang layak. Padahal, sudah sejak bertahun-tahun lalu, rencana pembangunan bandara di Kangean pernah digagas oleh pemerintah daerah. Sayangnya, hingga kini semua itu seolah hanya isapan jempol belaka.
Dalam beberapa momen, memang sempat ada kegiatan survei, Namun tindak lanjut nyata tak kunjung dilakukan. Proyek pembangunan bandara Kangean menguap begitu saja, seakan hilang dari prioritas pemerintah daerah.
Padahal, keberadaan bandara di wilayah kepulauan seperti Kangean bukan sekadar pelengkap infrastruktur, melainkan kebutuhan mendesak,terlebih ketika musim ekstrem melanda. Saat angin kencang dan gelombang tinggi menghadang, jalur laut menjadi sangat berbahaya bahkan bisa lumpuh total. Dalam kondisi seperti ini, satu-satunya harapan masyarakat hanyalah jalur udara. Sayangnya, harapan itu hingga kini belum memiliki landasan yang pasti, baik secara harfiah maupun politis.
Lebih jauh lagi, jika bandara benar-benar dibangun, bukan hanya masyarakat yang akan diuntungkan, tapi juga pemerintah daerah. Animo masyarakat terhadap konektivitas udara sangat tinggi—baik untuk kepentingan ekonomi, pendidikan, kesehatan, maupun mobilitas harian. Bandara akan menjadi aset strategis dan sumber pendapatan daerah, apalagi ditunjang dengan potensi wisata alam dan budaya khas Kangean yang menanti untuk dieksplorasi lebih luas.
Apakah pemerintah akan terus membiarkan janji ini menggantung di langit tanpa kepastian? Ataukah sudah saatnya Kangean benar-benar diakui sebagai bagian penting dari pembangunan wilayah?
Karena sejatinya, pembangunan tidak boleh berhenti di pinggir pelabuhan. Ia harus sampai ke langit—termasuk langit Kangean.
Oleh: Hariyanto, S.Pd
– Pemerhati Kepulauan












