BeritaJawa BaratKabupaten GarutPemerintahan

Pemkab Garut Bersama Rumah Amal Salman dan ITB Luncurkan Sebuah Program, Desa Karyasari Menjadi Percontohan

221
×

Pemkab Garut Bersama Rumah Amal Salman dan ITB Luncurkan Sebuah Program, Desa Karyasari Menjadi Percontohan

Sebarkan artikel ini

GARUT, JABAR

Globalindo.Net // Pemerintah Kabupaten Garut bersama-sama Rumah Amal Salman, lnstitut Teknologi Bandung (ITB) luncurkan Program Peningkatan Akses Makanan Bergizi untuk Masyarakat Miskin, Stunting melalui inovasi budidaya ikan Nila dan pertanian aquaponik.

Bupati Garut Abdusy Syakur Amin dan Wakil Rektor ITB Prof. Irwan Meilano, meresmikan langsung program tersebut yang berlangsung di Desa Karyasari, Kecamatan Banyuresmi, Leuwigoong Kab.Garut, Jawa Barat yang menjadi lokasi awal pelaksanaan proyek percontohan, Kamis (15/5/2025) beberapa waktu lalu.

“Syakur mempunyai harapan, Program ini bisa jadi prototype (Percontohan) di berbagai daerah lain, apalagi beberapa wilayah di Garut mengalami keterbatasan air, sehingga sistem sirkulasi air seperti ini bisa sangat membantu,” ujarnya.

Program yang digagas Rumah Amal Salman ini menggunakan Integrated Recirculate Aquaculture System (I-RAS) dan teknologi Bioflok, sebuah sistem ramah lingkungan yang efisien dalam penggunaan air. Sistem ini dikombinasikan dengan aquaponik, yang mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem tertutup.

Proyek percontohan ini dibangun di atas lahan seluas 1.200 meter persegi, dengan 12 kolam dalam greenhouse seluas 370 meter persegi. Targetnya, bisa menghasilkan 1–4 ton ikan Nila dan 6.200 pot sayuran organik setiap dua minggu sekali.

Menurut Bupati Syakur, program ini bukan hanya menjawab persoalan akses gizi, tetapi juga memiliki potensi meningkatkan ekonomi masyarakat melalui hasil panen yang bernilai jual tinggi.

“Syakur menyebut, Ini memberi insight baru bahwa kita bisa menyediakan makanan bergizi dan meningkatkan pendapatan masyarakat secara bersamaan,” tuturnya.

Sementata itu Prof. Irwan Meilano menekankan pentingnya sinergi, kolaborasi lintas sektor, antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha dalam mendukung masyarakat. Ia menilai teknologi yang digunakan sudah teruji dan merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia.

“Ikan Nila kaya akan kandungan gizi, dan lewat sistem ini masyarakat bisa mengaksesnya dengan harga terjangkau. Kami ingin model ini bisa direplikasi di tempat lain di Garut,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum Rumah Amal Salman, Mipi Ananta Kusuma menegaskan, Bahwa program ini sejalan dengan inisiatif nasional bertajuk “Kampus Berdampak”, yang mendorong perguruan tinggi untuk turun langsung menangani permasalahan lokal dengan pendekatan kolaboratif dan inovatif.

Setiap daerah punya tantangan berbeda, maka pendekatannya juga harus fleksibel dan adaptif. Kami percaya, dengan kolaborasi yang solid, program ini akan memberi dampak nyata bagi masyarakat, katanya.

Program budidaya ikan Nila dan aquaponik di Desa Karyasari bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan jawaban konkret atas isu stunting dan kemiskinan pangan. Kolaborasi Rumah Amal Salman, ITB, dan Pemkab Garut menunjukkan bahwa solusi lokal bisa menjadi model nasional. Dengan pendekatan berkelanjutan, efisien, dan berbasis masyarakat, Garut kini bergerak menuju masa depan yang lebih sehat dan sejahtera.

(RF).