EkonomiArtikelBandungJawa BaratKabupaten Bandung

Nasib Supir Angkot Kian Terpuruk Kalah Bersaing Dengan Tranportasi Online

608
×

Nasib Supir Angkot Kian Terpuruk Kalah Bersaing Dengan Tranportasi Online

Sebarkan artikel ini

KAB.BANDUNG, JABAR

Globalindo.Net//Angkutan umum, khususnya angkot di Kab Bandung, kini mulai ditinggalkan publik. Moda transportasi ini dianggap sudah terlalu jadul untuk mengikuti perkembangan jaman, apalagi ditambah dengan tumbuh suburnya transportasi online yang telah menjamur di perkotaan hingga ke masuk ke pedesaan.

Akibat kondisi ini, banyak sopir angkot yang kini kebingungan dan hanya bisa pasrah terhadap keadaan. Ibarat pribahasa maju kena mundur kena, para sopir angkot hanya bisa menerima nasib dibanding harus meninggalkan profesi yang telah mereka geluti sejak puluhan tahun lalu. Alasannya, mereka sudah tak mampu lagi mencari pekerjaan lain lantaran sudah berumur.

Kondisi tersebut salah satunya dirasakan Apip (59). Dia merupakan sopir angkot untuk trayek Stasiun Banjaran – Bandung dan telah bergelut dengan profesinya selama 20 tahun. Saat ditemui Globalindo, Apip turut mengungkapkan keluh kesahnya dengan kondisi industri angkot yang kini mulai sepi ditinggalkan penumpang.

Padahal kata APIP angkot dulu pernah mengalami masa keemasannya. Sekitaran awal tahun 2000 hingga 2010-an, angkot masih menjadi primadona transportasi warga Bandung. Namun setelah transportasi online mulai menjamur, tepatnya pada tahun 2015an, angkot perlahan ditinggalkan penumpang.

“Dulu mah rame terus, penumpang juga penuh. Pas zaman itu, lumayan ada aja (uang) buat dibawa pulang mah. Sekarang mah boro-boro, semenjak ada (transportasi) online jadi sepi. Ditambah kan udah pada banyak punya kendaraan pribadi, jadi berat sekarang mah. Ngejar setoran juga susah,” ungkapnya.

Pada masa-masa itu, APIP masih ingat ia harus menyetor uang kepada pemilik angkot yang dibawanya dengan nominal Rp 150 per hari. Dari setoran itu, Agus bisa membawa uang kerumah Rp 200-300 ribu.

Namun kini, kondisinya dirasakan Apip sudah serba susah. Jangan berharap jika angkot penuh disesaki penumpang. Sebab bisa mendapatkan 2-3 penumpang saja, itu sudah dirasa lumayan oleh Apip

“Sekarang setoran Rp 90 ribu, tapi pemasukan juga enggak nentu. Kadang-kadang bawa uang ke rumah, tapi kebanyakannya nombok setoran. Paling yangkebawa ke rumah Rp 50 ribu. Soalnya sepi penumpangnya, narik palingandapet 2 doang penumpang. Paling banyak juga 8 orang,”tuturnya.

Selain kurang nya penumpang di tambah pengeluaran nya banyak sekali jalan aja kita udah habis 30 ribu buat pedagang asongan (jual paksa) ya mau tidak mau harus beli, tambah Apip.

“Yang sayah heran itu dari dulu kenapa semakin menjamur ga ada tindakan dari para aparat, jelas jelas itu sangat membebani para supir angkot kaya kita. Maka nya sayah bingung boro2 bawa uang malah yang ada kita nombok.” Tutup Apip.

Gallih