TRENGGALEK, Globalindo.net — Lapangan Desa Karangrejo, Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek, Minggu (6/9/2026) dipadati ratusan masyarakat yang antusias menyaksikan pagelaran seni budaya Reog Tiban.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 11.00 WIB tersebut berlangsung meriah. Sejumlah kelompok seni Reog dari berbagai daerah turut hadir, di antaranya dari Ponorogo, Tulungagung, Blitar, serta tuan rumah Trenggalek.
Pagelaran yang berlangsung di kawasan bawah Gunung Manik Oro, Desa Karangrejo, tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat tali persaudaraan antarkelompok seni dan masyarakat lintas daerah.
Panitia kegiatan, Mbah Smart, mengaku bersyukur dan puas atas antusiasme masyarakat. Acara tersebut juga dihadiri Kepala Desa Karangrejo, Purwadi, bersama sejumlah sesepuh dan tokoh masyarakat setempat.
Menurut panitia, kegiatan Reog Tiban digelar secara swadaya oleh masyarakat yang memiliki kepedulian dan kecintaan terhadap seni Reog.

“Tujuannya selain mempererat persaudaraan antardaerah, juga untuk melestarikan budaya Reog dan menguri-uri budaya Jawa agar tetap dikenal generasi penerus dan tidak dilupakan,” ungkapnya.
Antusiasme masyarakat semakin terasa dengan hadirnya hiburan campursari yang menampilkan sinden Lia Tomo dari Trenggalek. Pagelaran tersebut juga didukung sound system Bumi Aji serta sponsor rokok Akrab milik H. Rohman.
Salah seorang warga, P. Min, mengatakan keberadaan kesenian Reog menjadi bagian penting dari warisan budaya yang harus terus dijaga.
“Kebudayaan Reog merupakan budaya peninggalan nenek moyang. Jangan sampai dilupakan. Selain sebagai seni budaya, kegiatan seperti ini juga bisa memperkenalkan kepada generasi muda agar lebih mengenal budaya kita sendiri,” ujarnya.
Doa Bersama, Memohon Turunnya Hujan
Di sela-sela pagelaran, para sesepuh bersama masyarakat setempat juga melaksanakan doa dan ritual sebagai bentuk ikhtiar memohon turunnya hujan.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang masih dipertahankan masyarakat. Bagi warga, pelestarian budaya tidak hanya sebatas pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Reog Tiban pun kembali menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Pertemuan para pelaku seni dari berbagai daerah menjadi momentum untuk menjaga keberlangsungan budaya sekaligus memperkuat persaudaraan.
Sekitar pukul 14.00 WIB, rangkaian pagelaran Reog Tiban berakhir. Acara berlangsung aman, meriah dan mendapat sambutan positif dari masyarakat yang hadir.
Pewarta: Sugeng Rowi












