SUMENEP,GLOBALINDO.NET – Festival musik Tongtong se-Madura 2026 di Kabupaten Sumenep yang seharusnya menjadi ajang kebanggaan budaya Madura, justru meninggalkan banyak tanda tanya dan kekecewaan di kalangan publik.
Di balik kemeriahan dan gegap gempita ribuan penonton, pelaksanaan tahun ini dinilai paling amburadul dalam beberapa aspek teknis dan penilaian.
Sorotan pertama datang dari rute yang dipilih panitia. Banyak penonton dan peserta menilai, jalur tahun ini tidak layak untuk event sebesar Festival Tongtong, karena terlalu sempit dan berbahaya.
Lebih parah lagi, di sepanjang rute banyak ditemukan kabel listrik berserakan dan menjuntai rendah, hingga membahayakan peserta yang membawa dekorasi tinggi.
Masalah tidak berhenti di situ. Penilaian juri dan transparansi hasil lomba menjadi topik paling panas di kalangan peserta. Sejumlah grup menilai keputusan dewan juri tidak objektif dan tidak transparan, terutama dalam kategori dekorasi.
Permasalahan muncul dari kelompok musik tongtong grup Barong Ireng yang berasal dari kota berteman Pamekasan. Ali sekalu ketua grup musik tongtong Barong ireng menilai tidak dijelaskannya secara detail ketika technical meeting terkait detailnya dekorasi.
“Waktu technical meeting tidak dijelaskan terkait masalah dekorasi dan di bebaskan, namun jika juri menilai dekorasi dari peserta dari ukiran kemaduraan barong ireng tidak akan ikut, karena barong ireng mengusung ukiran ukiran Bali” ujar Ali ketua barong ireng asal pamekasan.
Kritik juga dialamatkan kepada dinas terkait yaitu Disbudporapar yang dinilai lemah dalam pengawasan teknis dan pembinaan terhadap panitia. Padahal, Festival Tongtong bukan sekadar hiburan, melainkan wajah budaya Madura di mata publik nasional bahkan internasional.
Ketidaksiapan teknis, lemahnya koordinasi, serta dugaan ketidaktransparanan dalam penilaian menjadi cermin buram bagi penyelenggaraan festival besar di Sumenep.
“Jika catatan ini tidak segera ditindaklanjuti, masyarakat khawatir Festival Tongtong akan kehilangan kepercayaan publik dan makna budaya yang selama ini dijaga,” pungkasnya
Pewarta : w a w a n












