BeritaSumenep

Tedak Siten/Dun Dunan: Warisan Leluhur yang Tetap Lestari di Desa Giring Manding

66
×

Tedak Siten/Dun Dunan: Warisan Leluhur yang Tetap Lestari di Desa Giring Manding

Sebarkan artikel ini

Sumenep,Globalindo.net – Di tengah gempuran zaman dan kemajuan teknologi, masyarakat Desa giring kecamatan Manding kabupaten Sumenep, sebut saja bapak Holib Rahman dan ibu farida Febrianti tetap teguh menjaga dan melestarikan tradisi turun-temurun yang sarat makna filosofis dan doa mulia. Tradisi itu dikenal dengan nama Tedak Siten atau akrab disebut Dun Dunan, sebuah upacara adat istimewa yang diselenggarakan saat seorang anak berusia sekitar tujuh bulan untuk pertama kalinya menapakkan kaki di bumi, langkah awal memasuki fase kehidupan yang lebih luas .

Secara bahasa, Tedak berarti menapakkan kaki atau turun, dan Siten berasal dari kata Siti yang berarti tanah atau bumi. Kegiatan ini bukan sekadar seremonial biasa, melainkan rangkaian doa bersama yang dipanjatkan kepada Allah SWT. Tujuannya sangat mulia: memohon perlindungan, keselamatan, kesehatan, serta kelak sang anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah, berbakti kepada kedua orang tua, bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan setia berpegang teguh pada ajaran agama.minggu 24/05/2026
Bagi warga Desa giring kecamatan manding, tradisi ini adalah bentuk rasa syukur atas kelahiran dan pertumbuhan anak, sekaligus harapan besar agar anak tersebut kelak menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan selalu ingat asal-usulnya. Ada empat rangkaian utama kegiatan yang selalu ada dalam pelaksanaannya, masing-masing memiliki makna mendalam:

1. Selamatan atau Kenduren
Merupakan inti dari seluruh acara, berupa doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh desa. Di sini, seluruh warga, kerabat, dan tetangga berkumpul, berdoa, dan memohonkan keberkahan. Disajikan pula makanan tradisional sebagai bentuk rasa syukur dan kebersamaan. Maknanya: memohon keselamatan, dijauhkan dari marabahaya, serta diiringi doa baik dari banyak orang sepanjang hidupnya.

2. Brokohan
Prosesi di mana anak dituntun orang tua atau sesepuh untuk menginjakkan kaki di atas tumpukan makanan beraneka warna atau jadah tujuh rupa. Setiap warna melambangkan perjalanan hidup yang beragam, ada senang, ada susah, ada rintangan, ada keberhasilan. Maknanya: agar kelak anak mampu melewati segala dinamika kehidupan dengan baik, berhati suci, berani, dan selalu mendapat pertolongan Tuhan dalam setiap langkahnya .

3. Naik Tangga
Anak dituntun untuk menaiki tangga kecil yang biasanya terbuat dari batang tebu atau kayu yang kokoh, dihias indah. Tebu melambangkan kemantapan hati dan keteguhan pendirian. Maknanya: harapan agar anak selalu berkemajuan, memiliki cita-cita tinggi, berjiwa teguh, bertanggung jawab, dan tidak mudah goyah menghadapi cobaan, selangkah demi selangkah menuju kebaikan dan kesuksesan .

4. Udik-Udikan
Anak dibiarkan bermain atau mengais tanah, pasir, atau benda-benda yang disediakan di atas tanah, lalu kakinya dibersihkan. Ini adalah momen pertama kali anak bersentuhan langsung dengan tanah bumi tempat ia hidup. Maknanya: agar anak kelak rajin berusaha mencari rezeki dengan cara halal, bekerja keras, tetap rendah hati, tidak melupakan tanah kelahirannya, dan selalu ingat bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan alam semesta .

Bagi masyarakat Desa Margomulyo, Tedak Siten atau Dun Dunan bukan sekadar adat istiadat, melainkan jembatan penghubung antara nilai agama, budaya, dan kasih sayang orang tua. Di dalamnya tersimpan pesan: kehidupan dimulai dari langkah kecil di bumi, dibimbing doa, dikuatkan iman, dan dibangun atas dasar akhlak mulia.

Hingga kini, tradisi ini tetap hidup dan mengakar kuat. Setiap pelaksanaannya menjadi momen hangat, di mana kebersamaan warga desa semakin erat, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa warisan leluhur yang indah dan penuh makna ini akan terus dijaga agar tidak punah ditelan waktu.”

Pewarta: Eka

Tinggalkan Balasan