JAWA TIMURSumenep

Jalan Poros Kangean Rusak Parah: Ibu Hamil Melahirkan di Jalan Meninggal Sebelum Tiba di Rumah Sakit

43
×

Jalan Poros Kangean Rusak Parah: Ibu Hamil Melahirkan di Jalan Meninggal Sebelum Tiba di Rumah Sakit

Sebarkan artikel ini

SUMENEP,Globalindo.net – Kondisi jalan poros penghubung antar-desa di wilayah Kepulauan Kangean, tepatnya jalur yang menghubungkan Desa Pajanangger, Gelaman, Songlor, Kalinganyar hingga ke pusat Kecamatan Arjasa, kini menjadi sorotan utama dan keprihatinan mendalam. Jalur sepanjang kurang lebih 22 kilometer yang menjadi satu-satunya urat nadi kehidupan ribuan warga itu rusak parah di sejumlah titik, terutama ruas sepanjang sekitar 7 kilometer yang dinilai paling kritis dan nyaris tak layak dilalui kendaraan maupun manusia.

Kepala Desa Pajanangger, Suhrawi, membenarkan kondisi memprihatinkan tersebut. Ia menyebutkan, kerusakan terparah berada di akses penghubung antara wilayahnya dengan Desa Gelaman dan sekitarnya. Pemerintah desa bersama warga sebenarnya sudah berupaya melakukan kolaborasi dan kerja gotong royong untuk perbaikan darurat, namun upaya itu belum mampu mengembalikan fungsi jalan sebagaimana mestinya.

“Jalan yang paling parah kerusakannya sekitar tujuh kilometer. Kami bersama masyarakat Desa Pajanangger dan Desa Gelaman terus berkolaborasi dan berusaha mencari jalan keluar agar jalan ini tetap bisa dilewati, namun keterbatasan daya dan dana menjadi kendala utama,” ujar Suhrawi.

Bagi masyarakat Kangean, jalan ini bukan sekadar akses transportasi biasa. Jalur darat ini menjadi satu-satunya penghubung warga menuju pusat pelayanan kesehatan, sekolah, kantor pemerintahan, hingga jalur distribusi kebutuhan pokok. Karena tidak ada jalur alternatif lain, warga mau tidak mau tetap harus melewati jalan yang rusak, berlubang, dan berlumpur tersebut setiap hari, meski risiko yang ditanggung sangat besar.

Yang paling memilukan, dampak kerusakan jalan ini kini sudah menyentuh ranah kemanusiaan dan nyawa manusia. Bukan lagi sekadar persoalan ekonomi atau kerusakan kendaraan, melainkan sudah memakan korban akibat keterlambatan penanganan medis.

Seorang perwakilan warga yang mewakili suara masyarakat setempat menyampaikan kesedihan mendalam atas tragedi-tragedi yang kerap terjadi belakangan ini. Ia menceritakan, banyak ibu hamil yang harus dirujuk ke rumah sakit namun terhambat kondisi jalan, hingga akhirnya terpaksa melahirkan di tengah perjalanan. Lebih ironis lagi, ada pasien sakit parah maupun ibu bersalin yang meninggal dunia bahkan sebelum sempat tiba di fasilitas kesehatan, atau sesampainya di sana karena perjalanan yang terlalu sulit, bergelombang, dan memakan waktu berjam-jam.

“Yang paling membuat kami sedih dan miris, banyak ibu hamil yang hendak dirujuk ke rumah sakit justru melahirkan di jalan. Warga yang sakit parah juga kondisinya makin memburuk saat dibawa melewati jalan ini. Bahkan ada yang meninggal dunia sesampainya di rumah sakit, penyebab utamanya bukan sakitnya, tapi karena terlalu lama dan tersiksa di perjalanan akibat jalan yang rusak parah ini,” ungkapnya dengan nada pilu.

Selama ini, warga mengaku sudah berulang kali menyampaikan keluhan dan berkoordinasi dengan pihak kecamatan, kepolisian, hingga perangkat desa lainnya. Namun hingga saat ini, belum ada perubahan berarti atau penanganan serius yang terlihat di lapangan. Penderitaan warga seolah luput dari perhatian pemerintah.

Lebih memprihatinkan lagi, warga menegaskan bahwa dokumentasi foto atau video yang beredar di media belum sepenuhnya menggambarkan kondisi asli yang sebenarnya. Di titik-titik yang lebih jauh dan terpencil, kerusakan jauh lebih ekstrem dengan lubang-lubang besar, genangan air, dan bebatuan tajam yang sangat membahayakan.

“Kalau yang terlihat di video itu kondisinya masih agak mendingan. Di ruas yang lebih dalam dan pelosok, kondisinya minta ampun. Sudah bukan lagi jalan yang layak dilalui manusia. Namun karena kami terisolasi dan tidak punya pilihan lain selain lewat jalan ini, mau tidak mau kami paksakan lewat sini,” tambahnya.

Setiap hari, jalan rusak ini dilewati oleh anak-anak yang berangkat sekolah, petani yang membawa hasil panen, kendaraan pengangkut sembako, hingga kendaraan darurat ke

Tinggalkan Balasan