SURABAYA,Globalindo.net – Jika kemiskinan adalah rantai, maka pendidikan adalah kunci. Dan hari ini, saudara-saudara telah memegang kunci tersebut.” Kalimat tegas dan penuh makna itu disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul dalam orasi ilmiahnya di Sidang Senat Terbuka dalam rangka Wisuda ke-114 Program Doktor, Magister, dan Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (9/5/2026).
Dalam orasi bertajuk Membangun Peradaban Kesejahteraan, Ilmu Keadilan Sosial, dan Generasi Indonesia Emas 2045, Gus Ipul mengingatkan satu hal penting: cita-cita besar mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak akan pernah tercapai jika ketimpangan kesempatan masih dibiarkan terjadi di tengah masyarakat.
Menurut Gus Ipul, kemiskinan bukan sekadar masalah kurangnya pendapatan, melainkan tantangan multidimensi yang kerap diwariskan dari generasi ke generasi. Penyebab utamanya adalah adanya inequality of opportunity atau ketimpangan akses dan kesempatan, terutama dalam hal pendidikan. Anak yang lahir dari keluarga miskin sering kali terperangkap dalam lingkaran yang sama, bukan karena kurang kemampuan, tetapi karena terhalang akses untuk berkembang.

“Indonesia saat ini berada di titik krusial menuju usia 100 tahun kemerdekaan. Namun percuma kita bermimpi besar jika masih ada anak bangsa yang tidak bisa sekolah hanya karena masalah ekonomi. Ketimpangan akses pendidikan adalah tembok penghalang utama kita menuju kemajuan,” tegas Gus Ipul di hadapan ratusan wisudawan, dosen, dan tamu undangan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Gus Ipul menyoroti langkah strategis yang telah digagas Presiden Prabowo Subianto, yaitu program Sekolah Rakyat. Program ini berupa pendidikan gratis berasrama yang diperuntukkan khusus bagi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, yang masuk dalam kategori desil 1 dan 2 dalam basis Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSN).
Menurutnya, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, melainkan instrumen negara untuk memutus mata rantai kemiskinan. Melalui program ini, negara memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan berkualitas, mendapatkan asupan gizi layak, serta bimbingan karakter, sehingga mereka memiliki bekal setara dengan anak-anak dari keluarga mampu.
Dalam kesempatan bersejarah itu, juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kementerian Sosial dan UIN Sunan Ampel Surabaya. Kerja sama ini bertujuan menyelaraskan penyelenggaraan kesejahteraan sosial dengan Tridharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu fokus utama kerja sama tersebut adalah penguatan sistem pemantauan, evaluasi, dan peningkatan kualitas layanan lembaga kesejahteraan sosial yang ada di masyarakat.
Di hadapan 637 wisudawan dan wisudawati yang baru saja menyelesaikan studi, Gus Ipul menyampaikan harapan besar. Ia mengingatkan bahwa gelar yang diraih bukan sekadar jalan menuju kesuksesan pribadi semata. Lebih dari itu, para lulusan diharapkan hadir sebagai pemecah masalah (problem solver) dan agen perubahan yang peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya.
“Kalian hari ini telah memegang kunci tersebut: ilmu pengetahuan dan pendidikan. Jangan hanya gunakan kunci itu untuk membuka pintu kesuksesan diri sendiri, tapi bukalah juga pintu kesempatan bagi mereka yang tertinggal. Ingatlah, masa depan Indonesia Emas 2045 tidak ditentukan oleh kekayaan segelintir orang, tetapi oleh seberapa banyak anak bangsa yang kita persiapkan hari ini untuk menghadapi hari esok,” pungkas Gus Ipul.
Pewarta: HR-Eka












