Harga Tiket Mahal Diduga Jadi Ladang Bisnis, Turnamen Voli di RJ Impact Dinilai Mencoreng Nama Bupati
SUMENEP,Globalindo.net – Gelaran turnamen bola voli yang berlangsung di lapangan RJ Impact desa kasengan kecamatan manding kabupaten Sumenep kini tengah menjadi sorotan tajam dari masyarakat dan para suporter. Pasalnya, harga tiket masuk yang ditetapkan dinilai terlalu tinggi dan dianggap tidak wajar, hingga diduga kuat dijadikan sebagai ladang bisnis semata.
Keluhan ini semakin mengemuka mengingat dalam pamflet dan promosi turnamen tersebut tertulis jelas menggunakan nama besar Piala Bupati Cup Sumenep. Namun, pelaksanaannya di lapangan justru terkesan lebih mengutamakan keuntungan ekonomi daripada memfasilitasi hobi dan kegembiraan masyarakat.
“Turnamen volly di lapangan RJ Impact kasengan tersebut harga tiket dikeluhkan oleh suporter, pasalnya harga tiket dinilai mahal dan diduga jadi ladang bisnis,” ungkap sumber inisial A.
Pakai Nama Bupati, Tapi Komersial Berlebihan,Yang menjadi penyebab utama kemarahan para pendukung adalah adanya logo dan tulisan “Piala Bupati Cup Sumenep” yang terpampang di materi promosi. Padahal, event yang mengatasnamakan kepala daerah seharusnya bersifat memfasilitasi olahraga dan bisa diakses oleh semua kalangan, bukan justru memberatkan dengan tarif yang tinggi.
“Bahkan di turnamen tersebut ada pamflet Piala Bupati Sumenep, tapi justru dijadikan ladang bisnis yang merugikan penonton,” tambahnya.

Sikap ini dinilai sangat tidak pantas dan mencederai semangat olahraga. Jika event ini benar-benar di bawah naungan atau dukungan pemerintah daerah, seharusnya tiket bisa dijual dengan harga terjangkau atau bahkan gratis demi membesarkan nama olahraga daerah.
Masyarakat dan suporter menilai, praktik seperti ini sangat merugikan citra. Alih-alih memajukan prestise Kabupaten Sumenep khususnya di cabang olahraga bola voli, hal ini justru memberikan kesan buruk.
“Sungguh olahraga ini mencoreng nama Bupati dan olahraga Kabupaten Sumenep, khususnya di bola voli,” tegas keterangan yang diterima.
Diharapkan, ke depannya pihak penyelenggara dapat lebih bijak dalam menentukan kebijakan, terutama jika event tersebut menggunakan nama resmi institusi pemerintah atau kepala daerah, agar tidak lagi dianggap memanfaatkan momen olahraga semata-mata untuk keuntungan pribadi atau kelompok tertentu.”
Pewarta:HR












