ProfileArtikelJawa BaratPemerintahan

Di Antara Sawah dan Masa Depan, Jejak Ir. Dadan Hidayat Menjaga Pertanian Jawa Barat

123
×

Di Antara Sawah dan Masa Depan, Jejak Ir. Dadan Hidayat Menjaga Pertanian Jawa Barat

Sebarkan artikel ini
Gambar Ilustrasi, Ir Dadan Hidayat Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Jabar sedang berdialog dengan para petani

ARTIKEL, Globalindo.Net – Pagi baru saja menetas di hamparan sawah Jawa Barat. Embun masih menggantung di ujung daun padi, sementara langkah-langkah petani mulai memecah sunyi. Di tempat seperti inilah, jauh dari ruang rapat dan podium resmi, masa depan pertanian sebenarnya dipertaruhkan.

Bagi Ir. Dadan Hidayat, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, ruang-ruang seperti ini bukan sekadar latar. Ia adalah titik berangkat dari setiap kebijakan.

“Pertanian tidak bisa dilihat dari balik meja,” kira-kira begitu garis besar pesan yang berulang kali ia sampaikan dalam berbagai kesempatan.

Jawa Barat bukan wilayah asing dalam peta pangan nasional. Sejak lama, provinsi ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi. Namun, bagi Dadan, mempertahankan jauh lebih sulit daripada memulai.

Lahan menyusut, cuaca kian tak menentu, dan generasi muda kian menjauh dari cangkul.

Dalam situasi seperti itu, ia memilih jalan yang tidak selalu terdengar gempita: memastikan produksi tetap berjalan, memperbaiki sistem irigasi, dan menjaga ritme tanam yang konsisten.

Dalam pernyataannya di media, Dadan kerap menekankan pentingnya optimalisasi lahan, baik sawah irigasi maupun lahan kering. Bagi sebagian orang, istilah itu mungkin terdengar teknis. Namun di lapangan, itu berarti satu hal sederhana: memastikan tanah tetap bisa ditanami.

Ketika Teknologi Bertemu Tanah

Di sebuah hamparan sawah, suara mesin kini mulai bersahut-sahutan menggantikan ritme kerja manual. Traktor, alat tanam, hingga mesin panen perlahan menjadi bagian dari keseharian petani.

Dadan melihat perubahan ini sebagai keniscayaan. Namun ia juga mengingatkan, modernisasi bukan sekadar menghadirkan alat. Dalam beberapa pernyataannya, ia menegaskan bahwa penggunaan mesin pertanian harus disesuaikan dengan kondisi lahan.

Di sinilah pendekatan teknokratiknya tampak: tidak semua hal harus seragam. Ada daerah yang siap melompat jauh dengan teknologi, ada pula yang perlu berjalan lebih perlahan.

Dan kebijakan, menurutnya, harus mampu membaca perbedaan itu.

Mengajak Generasi yang Lama Pergi untuk Kembali

Di antara tantangan terbesar sektor pertanian hari ini adalah satu hal yang tidak kasatmata: waktu.

Petani semakin menua, sementara anak muda lebih banyak melihat kota sebagai masa depan.

Dadan tidak menampik kenyataan itu. Justru dari sanalah muncul dorongan untuk menghadirkan petani milenial, sebuah gagasan yang berupaya mengembalikan minat generasi muda ke sektor pertanian.

Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan bahwa pertanian harus menjadi sektor yang produktif, menguntungkan dan relevan dengan perkembangan zaman. Bukan sekadar pekerjaan, tetapi pilihan hidup.

Di beberapa tempat, upaya ini mulai terlihat. Anak-anak muda mencoba bertani dengan pendekatan baru, menggunakan teknologi, mengelola pasar digital, hingga mengembangkan komoditas hortikultura bernilai tinggi.

Langkahnya mungkin belum besar. Tapi ia sudah dimulai.

Dari Sawah ke Pasar

Di balik setiap panen, selalu ada pertanyaan lanjutan, ke mana hasilnya akan pergi?

Bagi Dadan, pertanian tidak berhenti di produksi. Ia harus terhubung dengan pasar. Dalam sejumlah pernyataannya, ia menyampaikan harapan agar Jawa Barat tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga menembus pasar ekspor.

Gagasan ini bukan tanpa tantangan. Standar kualitas, rantai distribusi, hingga daya saing harga menjadi pekerjaan rumah yang panjang. Namun arah itu sudah ditetapkan.

Menjaga dalam Konsistensi

Tidak semua kerja birokrasi terlihat. Tidak semua kebijakan terasa seketika.

Sebagian besar justru berjalan dalam diam, di antara laporan, koordinasi, dan keputusan-keputusan kecil yang menentukan arah besar.

Dadan tampak memilih jalur itu, bekerja dengan ritme yang tidak selalu riuh, tetapi berusaha konsisten.

Dalam lanskap yang sering berubah cepat, konsistensi menjadi hal yang langka. Namun justru di situlah letak pentingnya menjaga agar kebijakan tidak mudah bergeser oleh momentum sesaat.

Pertanian, pada akhirnya, adalah soal keberlanjutan. Ia tidak hanya berbicara tentang hari ini, tetapi juga tentang generasi yang akan datang.

Di hamparan sawah yang sama, musim akan terus berganti. Padi akan kembali ditanam, dipanen, lalu ditanam lagi.

Dan di balik siklus yang tampak sederhana itu, ada kerja panjang yang tidak selalu terlihat.

Ir. Dadan Hidayat mungkin bukan sosok yang selalu berada di sorotan. Namun melalui kebijakan dan arah yang ia jaga, satu hal menjadi jelas: masa depan, sering kali, dibangun dari hal-hal yang paling mendasar.

Dari tanah. Dari air. Dari mereka yang tetap memilih untuk menanam.

Tim Red